HUJAN KEMARAU
Karya Defita Juliansyah
Pagi-pagi
di sebuah kota di daerah Bengkulu, aku memanaskan mesin mobil di garasi rumah pertanda hari ini akan melanjutkan
pekerjaan di sebuah perusahaan media cetak. Semua sudah siap, mulai dari
pakaian, sepatu, tas, make up dan
berbagai peralatan kantor sudah disiapkan di dalam tas. Tepat pukul 07.00 pagi
aku menginjak pedal gas mobilku “Indra, ibu pergi dulu ya” aku langsung melaju
ke jalan raya yang hanya berjarak 6 meter dari beranda rumah. Kira-kira 4 km
akhirnya tiba di kantor di kawasan Kepahiang. Seperti pagi-pagi biasanya,
kawan-kawan kantor menyapa dengan senyuman manis. Beginilah menjadi seorang
pemimpin redaksi di sebuah perusahaan yang menyajikan berita bagi orang banyak,
harus selalu memperbaru informasi terkait hal-hal yang sedang dibicarakan di
dunia. Hari-hari biasa aku bisa menghabiskan waktu hingga pukul 10.00 malam. Mungkin
inilah awal dari cerita yang begitu membuatku merasa bersalah dan ingin
berubah.
Indra
adalah anak satu-satunya di keluarga kami, Indra sekarang masih duduk di kelas
2 di sebuah SMA di Kepahiang. Tidak banyak yang aku ketahui tentang dia sejak Indra
duduk di kelas 2 SMP, dulu memang kami masih sering bercakap, tapi sekarang dia
semakin tertutup dan bahkan jarang sekali kami bicara. Jangankan berbicara,
saat mengucapkan salam pun Indra tidak pernah menjawab. Mau bagaimana lagi,
namanya juga wanita karier, aku harus profesional terhadap pekerjaan. Pulang
malam bagiku sudah menjadi hal yang lumrah.
Menghidupi
Indra bukan hanya aku sendiri, seperti biasanya setiap keluarga pasti memiliki
pemimpin. Guntur, adalah nama suamiku. Beliau bekerja sebagai pebisnis,
pekerjaannya kebanyakan diselesaikan di luar kota, bahkan kadang-kadang di luar
negeri. Kalau boleh sedikit bercerita, suamiku itu sebenarnya tidak begitu
memuaskan. Apa lagi dia jarang sekali pulang ke rumah, kira-kira kalau menurut
hitungan jariku hanya sekira 10 kali saja dalam dua bulan. Itupun hanya
menumpang tidur dan mampir untuk makan saja, jadi tidak salah kalau aku sering
juga keluar malam layaknya seorang gadis yang masih berumur 19 tahun, ya walaupun sebenarnya umurku 21
tahun lebih tua dari itu, tapi itu tidak mengurangi semangat jiwa mudaku.
Sampai suatu ketika suamiku pulang dari Singapura, dia membawa muka yang tidak
begitu bersahabat. Untung saja aku sudah pulang pukul 9.12 tadi, dan untung
juga aku tidak pergi keluyuran malam ini.
Tidak
ada salam atau senyuman terlintas di wajahnya. Aku tidak lagi heran kalau Mas
Guntur tidak menyapaku, tetapi ada apa sebenarnya, mengapa wajahnya begitu ditekuk
dan dilipat-lipat?
Aku
sudah mandi dan membaringkan badanku di tempat tidur sementara Mas Guntur
membersihkan badannya di kamar mandi. Rasanya sudah lama sekali sejak satu
bulan yang lalu aku tidak memeluk tubuh Mas Guntur, aku sudah rindu sekali.
Sembari aku mengenang masa-masaku bersama Mas Guntur rupanya Mas Guntur sudah
selesai mandi dan mengejutkanku dari khayalanku saat dia menduduki tempat tidur
“ada apa mas, ada masalah?”
“tidak
ada”
“tapi
kenapa wajah mas seperti sedang memikirkan sesuatu”
“sudahlah!
Aku mau tidur. Capek!”
Ada
apa sebenarnya? Tidak seperti biasanya saat aku tanya pasti Mas Guntur menjawab
dengan lembut dan bercerita tentang apa yang dia lakukan saat dia bekerja. Tapi
sekarang ada yang berbeda. Ya, mungkin dia memiliki masalah pekerjaan.
Menurutku tidak ada salahnya kalau malam ini dijadikan malam yang spesial untuk
Mas Guntur. Aku bangun ke arah meja dan menyemprotkan parfum ke badan dan
sekitar leher. Aku yakin dengan cara ini Mas Guntur akan tergoda. “mas, aku
rindu kamu mas. Sejak sebulan yang lalu
aku tidak lagi merasakan hangatnya pelukanmu mas. Aku rindu mas” aku memeluk Mas
Guntur dari belakang sambil bercerita lebih banyak lagi tentang isi hatiku.
Tetapi tanpa aku duga Mas Guntur sekarang begitu berubah. “sudah, tidur
sajalah. Aku capek betul hari ini, masih banyak waktu lain”
“Waktu
lain kapan mas?”
“ahh,
besok ‘kan bisa?”
“tapi
mas, aku maunya sekarang!”
“heh,
dengar ya aku sedang tidak mau. Aku capek! Ngerti?”
Sungguh
kasar Mas Guntur, tidak pernah sebelumnya dia memangil dirinya dengan sebutan
‘Aku’ ah, sudahlah mungkin memang dia
sendang capek
Pagi-pagi,
seperti biasa aku sudah siap dengan semua perlengkapanku, hari ini jumat.
Mungkin aku akan pulang lebih cepat, jadi memungkinkan bagiku untuk lebih
banyak waktu bersama Mas Guntur dan Indra. Aku lihat sarapan nasi goreng sudah
disiapkan Bibi Ima, ada susu hangat dan juga telur mata sapi. Tapi sepertinya
di sana sudah ada piring bekas seseorang makan. “bi, ini piring siapa?”
“ya
bu, tadi bapak sudah makan duluan. Tepat waktu bibi menyiapkan makanan bapak
langsung makan”
“kenapa
bapak tidak ajak saya ya bi?”
“bibi
tidak tahu bu, tadi juga waktu bibi sapa, bapak diam saja tidak menjawab”
“ya
bi, sepertinya bapak sedang ada masalah”
“ya
bu, maaf bu bibi mau ke dapur dulu”
“ya
bi”
Aku
masih duduk termenung sambil menopang dagu di meja makan memikirkan apa yang
sedang terjadi di rumah ini. Tidak lama berselang aku mendengar suara langkah
menuju ke arahku. Aku bangun dari lamunanku sambil menolehkan perlahan wajahku
ke arah tangga. Ternyata Indra, anak bujangku satu-satunya. Sudah lama aku
tidak memperhatikan wajahnya. Sekarang Indra duduk di depanku sambil mengangkat
sendok dan mengarahkannya ke nasi goreng di atas meja. Masih memakai piyama dan
rambut yang amburadul. Indra sekarang ternyata sudah lebih kurus, rambutnya pun
sudah gondrong. Tapi kenapa wajahnya pucat sekali?
“Indra,
kamu sakit?”
“heh?”
“kamu
sakit nak?”
“apa?”
“wajah
kamu pucat sekali”
“ngga
kok, cuma lagi flu”
“kamu
ngga sekolah hari ini?”
“ngga”
Rasanya
sudah lama sekali tidak bercerita dengan Indra, sejauh ini yang aku ingat aku
pernah menyuapinya saat Indra sakit waktu kelas 2 SMP.. Aku senang sekali
melihat Indra makan dengan lahapnya, dia memang tidak pernah berubah. Porsi
makannya selalu banyak. “ibu pergi dulu ya sayang”
Indra
tidak pernah menjawab saat aku pamit pergi kerja, itu mungkin sudah menjadi
kebiasaan Indra. Aku bisa maklumi itu, namanya juga anak muda.
Saat
aku akan memasukkan kunci motorku yang sedang parkir di depan rumah, Mas Guntur
terlihat sedang duduk berjemur di samping pohon beringin kecil . Aku mendekati Mas
Guntur dan menanyai kembali ada apa gerangan kepadanya, tetapi Mas Guntur malah
balik memarahi aku, berbagai omelan ia lontarkan kepadaku, tetapi yang paling
membuat aku tersentak adalah ketika Mas Guntur mengatakan “ kamu tahu kenapa
aku pulang lebih cepat? Aku sudah dengar cerita dari Bi Ima. kamu jadi ibu
tidak becus mengurus anak, kamu lihat sekarang anak kita. Dia menjadi pengguna
narkoba, sekarang dia tidak sekolah lagi gara-gara narkoba. Dan yang harus kamu
lebih tahu, Indra lebih menganggap Bibi Ima sebagai ibunya. Apa kamu tidak
pernah merasa menjadi seorang ibu?”. Sumpah aku tidak tahu apa-apa mengenai Indra.
Tidak ada yang memberitahuku masalah ini. Apakah benar aku sudah gagal menjadi
seorang ibu? Ini tidak mungkin terjadi.
Aku
langsung masuk ke dalam rumah sambil mencari Indra “Indra! Indra!”
Doorr...
dooorr... dooorr.... Aku gedor pintu kamarnya, sambil membujuk Indra untuk
keluar, aku ingin tahu apa benar semua yang dikatakan Mas Guntur, apa benar
anakku seorang pengguna narkoba? Saking paniknya sehingga sekuat tenaga aku
memaksa membuka pintu kamar Indra namun tetap tidak terbuka, Indra mengunci
pintunya dari dalam. Aku hanya bisa menangis, menangisi ketidakberdayaanku saat
mengetahui kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kesibukanku. Aku
kembali ke kamar, aku lepaskan semua peralatan dan perhiasan yang menempel di tubuhku.
Aku menghadap cermin besar di depan meja rias. Menatap diriku yang tidak
berdaya, apa gunanya semua yang telah aku kerjakan selama ini? Apa gunanya
kepuasan hati tetapi keluargaku tidak terurus? Apa gunanya aku terlihat tegar
tapi tidak mampu mengurus keluarga? Aku merasa menjadi wanita yang paling gagal,
tidak becus dalam mengurus anak. Aku berbaring di tempat tidur, tidak lagi
terlintas di pikiranku masalah pekerjaan atau apapun yang akan terjadi di luar
sana jika aku tidak hadir dalam situasi dan momen itu.
Kira-kira
5 jam aku berada dalam kamar merenungi kenyataan hidup yang telah gagal,
rupanya masih belum habis bencana yang aku terima “Rina! Bi Ima! Cepat tolong
bapak, ke kamar Indra sekarang!”
Ada
apa lagi Mas Guntur memanggil, mengapa Bibi Ima juga dipanggil. Aku segera
bergegas menuju kamar Indra, sambil harap-harap cemas aku berlari kecil ke
lantai atas dan bersamaan dengan itu aku diikuti oleh Bibi Ima yang juga
berlari di belakangku.
Aku
melihat pintu kamar Indra sudah terbuka, saat aku akan masuk ternyata Mas
Guntur keluar dari kamar Indra sambil menggendong Indra. “ada apa ini mas?
Kenapa Indra? Kenapa Indra digendong?”
“sudah,
nanti mas jelaskan sekarang kamu buka pintu mobil di depan, kita bawa Indra ke
rumah sakit”
Tanpa
pikir panjang lagi aku turun ke bawah mancari kunci mobil Xenia Mas Guntur, kunci
mobilnya biasa tergantung di belakang pintu di dalam kamar. Setelah dapat aku
lari lagi ke depan dan membuka pintu mobil, tidak lama Mas Guntur keluar
bersama Bibi Ima membawa Indra keluar. “ayo bantu Indra, dekap tubuhnya jangan
sampai jatuh”
Aku
masuk ke dalam di kursi bagian tengah bersama Bibi Ima, kami menopang tubuh
Indra. Aku melihat mulut Indra sudah dipenuhi buih putih, persis seperti orang
yang sedang menyikat gigi. Tetapi bau buih ini berbeda, tidak seperti bau pasta
gigi. Sampai dirumah sakit Indra dimasukkan ke raung ICU, sambil menunggu aku
memeluk Mas Guntur dan Bibi Ima juga duduk di sampingku, dengan nada yang agak
bergetar Bi Ima bebicara denganku “maaf ya bu, bibi tidak pernah menceritakan
masalah ini kepada ibu. Bibi sebenarnya kasihan dengan Mas Indra karena Mas
Indra tidak memiliki teman dan tidak lagi mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Mas Indra lebih sering berbicara dengan saya. Sebenarnya saya pernah mendapatkan
surat panggilan dari sekolah mengenai masalah Mas Indra, namun Mas Indra tidak
ingin ibu tahu masalah yang dia hadapi”
“ya
bi tidak apa-apa, memang saya yang salah. Jarang sekali memikirkan keluarga dan
terlalu sibuk dengan pekerjaanku”
Aku
merasa sangat menyesal, anak bujang satu-satu yang aku harapkan nantinya
menjadi seorang yang hebat malah terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Apa
lagi yang bisa aku lakukan, seandainya saja aku bisa memutar balik waktu aku
mau mengubah ini semua.
Sementara
aku memeluk Mas Guntur, dokter yang memeriksa Indra keluar dari ruang ICU dan
mengatakan bahwa Indra masih ada harapan, tetapi Indra harus dirawat intensif
karena overdosis dan dokter juga
menyarankan untuk memasukkan Indra ke tempat rehabilitasi apabila keadaanya
sudah baik nanti. Mulai saat itu aku berusaha membagi waktu antara pekerjaan
dan kelurga, selaluku sempatkan waktu menemani Indra di rumah sakit. Aku ingin
menjadi seorang ibu yang sebenarnya buka hanya predikat sebagai seorang wanita
yang memiliki anak, tetapi juga seorang ibu yang memberika kasih sayangnya
terhadap anaknya. Walaupun harus mengatur waktu semaksimal mungkin, namun itu
bukanlah penghalang untukku berubah.
Setelah
tiga bulan Indra dirawat dirumah sakit dan keadaannya lebih membaik. Sekarang
Indra sedang menjalai perawatan di tempat rehabilitasi di Bengkulu, tentunya
aku akan selalu ada disampingnya sebagai seorang ibu. Yang aku tanamkan dalam
hatiku sekarang adalah aku berjanji untuk menjadi seorang ibu yang sebenarnya. Mudah-mudahan
Indra cepat sembuh dan dapat melajutkan kehidupan seperti anak-anak muda
lainnya. Aku yakin setelah ini keadaan menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar