Rabu, 19 Desember 2012

Cerpen HUJAN KEMARAU


HUJAN KEMARAU
Karya Defita Juliansyah
Pagi-pagi di sebuah kota di daerah Bengkulu, aku memanaskan mesin mobil di garasi  rumah pertanda hari ini akan melanjutkan pekerjaan di sebuah perusahaan media cetak. Semua sudah siap, mulai dari pakaian, sepatu, tas, make up dan berbagai peralatan kantor sudah disiapkan di dalam tas. Tepat pukul 07.00 pagi aku menginjak pedal gas mobilku “Indra, ibu pergi dulu ya” aku langsung melaju ke jalan raya yang hanya berjarak 6 meter dari beranda rumah. Kira-kira 4 km akhirnya tiba di kantor di kawasan Kepahiang. Seperti pagi-pagi biasanya, kawan-kawan kantor menyapa dengan senyuman manis. Beginilah menjadi seorang pemimpin redaksi di sebuah perusahaan yang menyajikan berita bagi orang banyak, harus selalu memperbaru informasi terkait hal-hal yang sedang dibicarakan di dunia. Hari-hari biasa aku bisa menghabiskan waktu hingga pukul 10.00 malam. Mungkin inilah awal dari cerita yang begitu membuatku merasa bersalah dan ingin berubah.
Indra adalah anak satu-satunya di keluarga kami, Indra sekarang masih duduk di kelas 2 di sebuah SMA di Kepahiang. Tidak banyak yang aku ketahui tentang dia sejak Indra duduk di kelas 2 SMP, dulu memang kami masih sering bercakap, tapi sekarang dia semakin tertutup dan bahkan jarang sekali kami bicara. Jangankan berbicara, saat mengucapkan salam pun Indra tidak pernah menjawab. Mau bagaimana lagi, namanya juga wanita karier, aku harus profesional terhadap pekerjaan. Pulang malam bagiku sudah menjadi hal yang lumrah.
Menghidupi Indra bukan hanya aku sendiri, seperti biasanya setiap keluarga pasti memiliki pemimpin. Guntur, adalah nama suamiku. Beliau bekerja sebagai pebisnis, pekerjaannya kebanyakan diselesaikan di luar kota, bahkan kadang-kadang di luar negeri. Kalau boleh sedikit bercerita, suamiku itu sebenarnya tidak begitu memuaskan. Apa lagi dia jarang sekali pulang ke rumah, kira-kira kalau menurut hitungan jariku hanya sekira 10 kali saja dalam dua bulan. Itupun hanya menumpang tidur dan mampir untuk makan saja, jadi tidak salah kalau aku sering juga keluar malam layaknya seorang gadis yang masih berumur  19 tahun, ya walaupun sebenarnya umurku 21 tahun lebih tua dari itu, tapi itu tidak mengurangi semangat jiwa mudaku. Sampai suatu ketika suamiku pulang dari Singapura, dia membawa muka yang tidak begitu bersahabat. Untung saja aku sudah pulang pukul 9.12 tadi, dan untung juga aku tidak pergi keluyuran malam ini.
Tidak ada salam atau senyuman terlintas di wajahnya. Aku tidak lagi heran kalau Mas Guntur tidak menyapaku, tetapi ada apa sebenarnya, mengapa wajahnya begitu ditekuk dan dilipat-lipat?
Aku sudah mandi dan membaringkan badanku di tempat tidur sementara Mas Guntur membersihkan badannya di kamar mandi. Rasanya sudah lama sekali sejak satu bulan yang lalu aku tidak memeluk tubuh Mas Guntur, aku sudah rindu sekali. Sembari aku mengenang masa-masaku bersama Mas Guntur rupanya Mas Guntur sudah selesai mandi dan mengejutkanku dari khayalanku saat dia menduduki tempat tidur “ada apa mas, ada masalah?”
“tidak ada”
“tapi kenapa wajah mas seperti sedang memikirkan sesuatu”
“sudahlah! Aku mau tidur. Capek!”
Ada apa sebenarnya? Tidak seperti biasanya saat aku tanya pasti Mas Guntur menjawab dengan lembut dan bercerita tentang apa yang dia lakukan saat dia bekerja. Tapi sekarang ada yang berbeda. Ya, mungkin dia memiliki masalah pekerjaan. Menurutku tidak ada salahnya kalau malam ini dijadikan malam yang spesial untuk Mas Guntur. Aku bangun ke arah meja dan menyemprotkan parfum ke badan dan sekitar leher. Aku yakin dengan cara ini Mas Guntur akan tergoda. “mas, aku rindu kamu mas. Sejak  sebulan yang lalu aku tidak lagi merasakan hangatnya pelukanmu mas. Aku rindu mas” aku memeluk Mas Guntur dari belakang sambil bercerita lebih banyak lagi tentang isi hatiku. Tetapi tanpa aku duga Mas Guntur sekarang begitu berubah. “sudah, tidur sajalah. Aku capek betul hari ini, masih banyak waktu lain”
“Waktu lain kapan mas?”
“ahh, besok ‘kan bisa?”
“tapi mas, aku maunya sekarang!”
“heh, dengar ya aku sedang tidak mau. Aku capek! Ngerti?”
Sungguh kasar Mas Guntur, tidak pernah sebelumnya dia memangil dirinya dengan sebutan ‘Aku’  ah, sudahlah mungkin memang dia sendang capek
Pagi-pagi, seperti biasa aku sudah siap dengan semua perlengkapanku, hari ini jumat. Mungkin aku akan pulang lebih cepat, jadi memungkinkan bagiku untuk lebih banyak waktu bersama Mas Guntur dan Indra. Aku lihat sarapan nasi goreng sudah disiapkan Bibi Ima, ada susu hangat dan juga telur mata sapi. Tapi sepertinya di sana sudah ada piring bekas seseorang makan. “bi, ini piring siapa?”
“ya bu, tadi bapak sudah makan duluan. Tepat waktu bibi menyiapkan makanan bapak langsung makan”
“kenapa bapak tidak ajak saya ya bi?”
“bibi tidak tahu bu, tadi juga waktu bibi sapa, bapak diam saja tidak menjawab”
“ya bi, sepertinya bapak sedang ada masalah”
“ya bu, maaf bu bibi mau ke dapur dulu”
“ya bi”
Aku masih duduk termenung sambil menopang dagu di meja makan memikirkan apa yang sedang terjadi di rumah ini. Tidak lama berselang aku mendengar suara langkah menuju ke arahku. Aku bangun dari lamunanku sambil menolehkan perlahan wajahku ke arah tangga. Ternyata Indra, anak bujangku satu-satunya. Sudah lama aku tidak memperhatikan wajahnya. Sekarang Indra duduk di depanku sambil mengangkat sendok dan mengarahkannya ke nasi goreng di atas meja. Masih memakai piyama dan rambut yang amburadul. Indra sekarang ternyata sudah lebih kurus, rambutnya pun sudah gondrong. Tapi kenapa wajahnya pucat sekali?
“Indra, kamu sakit?”
“heh?”
“kamu sakit nak?”
“apa?”
“wajah kamu pucat sekali”
“ngga kok, cuma lagi flu”
“kamu ngga sekolah hari ini?”
“ngga”
Rasanya sudah lama sekali tidak bercerita dengan Indra, sejauh ini yang aku ingat aku pernah menyuapinya saat Indra sakit waktu kelas 2 SMP.. Aku senang sekali melihat Indra makan dengan lahapnya, dia memang tidak pernah berubah. Porsi makannya selalu banyak. “ibu pergi dulu ya sayang”
Indra tidak pernah menjawab saat aku pamit pergi kerja, itu mungkin sudah menjadi kebiasaan Indra. Aku bisa maklumi itu, namanya juga anak muda.
Saat aku akan memasukkan kunci motorku yang sedang parkir di depan rumah, Mas Guntur terlihat sedang duduk berjemur di samping pohon beringin kecil . Aku mendekati Mas Guntur dan menanyai kembali ada apa gerangan kepadanya, tetapi Mas Guntur malah balik memarahi aku, berbagai omelan ia lontarkan kepadaku, tetapi yang paling membuat aku tersentak adalah ketika Mas Guntur mengatakan “ kamu tahu kenapa aku pulang lebih cepat? Aku sudah dengar cerita dari Bi Ima. kamu jadi ibu tidak becus mengurus anak, kamu lihat sekarang anak kita. Dia menjadi pengguna narkoba, sekarang dia tidak sekolah lagi gara-gara narkoba. Dan yang harus kamu lebih tahu, Indra lebih menganggap Bibi Ima sebagai ibunya. Apa kamu tidak pernah merasa menjadi seorang ibu?”. Sumpah aku tidak tahu apa-apa mengenai Indra. Tidak ada yang memberitahuku masalah ini. Apakah benar aku sudah gagal menjadi seorang ibu? Ini tidak mungkin terjadi.
Aku langsung masuk ke dalam rumah sambil mencari Indra “Indra! Indra!”
Doorr... dooorr... dooorr.... Aku gedor pintu kamarnya, sambil membujuk Indra untuk keluar, aku ingin tahu apa benar semua yang dikatakan Mas Guntur, apa benar anakku seorang pengguna narkoba? Saking paniknya sehingga sekuat tenaga aku memaksa membuka pintu kamar Indra namun tetap tidak terbuka, Indra mengunci pintunya dari dalam. Aku hanya bisa menangis, menangisi ketidakberdayaanku saat mengetahui kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kesibukanku. Aku kembali ke kamar, aku lepaskan semua peralatan dan perhiasan yang menempel di tubuhku. Aku menghadap cermin besar di depan meja rias. Menatap diriku yang tidak berdaya, apa gunanya semua yang telah aku kerjakan selama ini? Apa gunanya kepuasan hati tetapi keluargaku tidak terurus? Apa gunanya aku terlihat tegar tapi tidak mampu mengurus keluarga? Aku merasa menjadi wanita yang paling gagal, tidak becus dalam mengurus anak. Aku berbaring di tempat tidur, tidak lagi terlintas di pikiranku masalah pekerjaan atau apapun yang akan terjadi di luar sana jika aku tidak hadir dalam situasi dan momen itu.
Kira-kira 5 jam aku berada dalam kamar merenungi kenyataan hidup yang telah gagal, rupanya masih belum habis bencana yang aku terima “Rina! Bi Ima! Cepat tolong bapak, ke kamar Indra sekarang!”
Ada apa lagi Mas Guntur memanggil, mengapa Bibi Ima juga dipanggil. Aku segera bergegas menuju kamar Indra, sambil harap-harap cemas aku berlari kecil ke lantai atas dan bersamaan dengan itu aku diikuti oleh Bibi Ima yang juga berlari di belakangku.
Aku melihat pintu kamar Indra sudah terbuka, saat aku akan masuk ternyata Mas Guntur keluar dari kamar Indra sambil menggendong Indra. “ada apa ini mas? Kenapa Indra? Kenapa Indra digendong?”
“sudah, nanti mas jelaskan sekarang kamu buka pintu mobil di depan, kita bawa Indra ke rumah sakit”
Tanpa pikir panjang lagi aku turun ke bawah mancari kunci mobil Xenia Mas Guntur, kunci mobilnya biasa tergantung di belakang pintu di dalam kamar. Setelah dapat aku lari lagi ke depan dan membuka pintu mobil, tidak lama Mas Guntur keluar bersama Bibi Ima membawa Indra keluar. “ayo bantu Indra, dekap tubuhnya jangan sampai jatuh”
Aku masuk ke dalam di kursi bagian tengah bersama Bibi Ima, kami menopang tubuh Indra. Aku melihat mulut Indra sudah dipenuhi buih putih, persis seperti orang yang sedang menyikat gigi. Tetapi bau buih ini berbeda, tidak seperti bau pasta gigi. Sampai dirumah sakit Indra dimasukkan ke raung ICU, sambil menunggu aku memeluk Mas Guntur dan Bibi Ima juga duduk di sampingku, dengan nada yang agak bergetar Bi Ima bebicara denganku “maaf ya bu, bibi tidak pernah menceritakan masalah ini kepada ibu. Bibi sebenarnya kasihan dengan Mas Indra karena Mas Indra tidak memiliki teman dan tidak lagi mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Mas Indra lebih sering berbicara dengan saya. Sebenarnya saya pernah mendapatkan surat panggilan dari sekolah mengenai masalah Mas Indra, namun Mas Indra tidak ingin ibu tahu masalah yang dia hadapi”
“ya bi tidak apa-apa, memang saya yang salah. Jarang sekali memikirkan keluarga dan terlalu sibuk dengan pekerjaanku”
Aku merasa sangat menyesal, anak bujang satu-satu yang aku harapkan nantinya menjadi seorang yang hebat malah terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Apa lagi yang bisa aku lakukan, seandainya saja aku bisa memutar balik waktu aku mau mengubah ini semua.
Sementara aku memeluk Mas Guntur, dokter yang memeriksa Indra keluar dari ruang ICU dan mengatakan bahwa Indra masih ada harapan, tetapi Indra harus dirawat intensif karena overdosis dan dokter juga menyarankan untuk memasukkan Indra ke tempat rehabilitasi apabila keadaanya sudah baik nanti. Mulai saat itu aku berusaha membagi waktu antara pekerjaan dan kelurga, selaluku sempatkan waktu menemani Indra di rumah sakit. Aku ingin menjadi seorang ibu yang sebenarnya buka hanya predikat sebagai seorang wanita yang memiliki anak, tetapi juga seorang ibu yang memberika kasih sayangnya terhadap anaknya. Walaupun harus mengatur waktu semaksimal mungkin, namun itu bukanlah penghalang untukku berubah.
Setelah tiga bulan Indra dirawat dirumah sakit dan keadaannya lebih membaik. Sekarang Indra sedang menjalai perawatan di tempat rehabilitasi di Bengkulu, tentunya aku akan selalu ada disampingnya sebagai seorang ibu. Yang aku tanamkan dalam hatiku sekarang adalah aku berjanji untuk menjadi seorang ibu yang sebenarnya. Mudah-mudahan Indra cepat sembuh dan dapat melajutkan kehidupan seperti anak-anak muda lainnya. Aku yakin setelah ini keadaan menjadi lebih baik.