Rabu, 19 Desember 2012

Cerpen HUJAN KEMARAU


HUJAN KEMARAU
Karya Defita Juliansyah
Pagi-pagi di sebuah kota di daerah Bengkulu, aku memanaskan mesin mobil di garasi  rumah pertanda hari ini akan melanjutkan pekerjaan di sebuah perusahaan media cetak. Semua sudah siap, mulai dari pakaian, sepatu, tas, make up dan berbagai peralatan kantor sudah disiapkan di dalam tas. Tepat pukul 07.00 pagi aku menginjak pedal gas mobilku “Indra, ibu pergi dulu ya” aku langsung melaju ke jalan raya yang hanya berjarak 6 meter dari beranda rumah. Kira-kira 4 km akhirnya tiba di kantor di kawasan Kepahiang. Seperti pagi-pagi biasanya, kawan-kawan kantor menyapa dengan senyuman manis. Beginilah menjadi seorang pemimpin redaksi di sebuah perusahaan yang menyajikan berita bagi orang banyak, harus selalu memperbaru informasi terkait hal-hal yang sedang dibicarakan di dunia. Hari-hari biasa aku bisa menghabiskan waktu hingga pukul 10.00 malam. Mungkin inilah awal dari cerita yang begitu membuatku merasa bersalah dan ingin berubah.
Indra adalah anak satu-satunya di keluarga kami, Indra sekarang masih duduk di kelas 2 di sebuah SMA di Kepahiang. Tidak banyak yang aku ketahui tentang dia sejak Indra duduk di kelas 2 SMP, dulu memang kami masih sering bercakap, tapi sekarang dia semakin tertutup dan bahkan jarang sekali kami bicara. Jangankan berbicara, saat mengucapkan salam pun Indra tidak pernah menjawab. Mau bagaimana lagi, namanya juga wanita karier, aku harus profesional terhadap pekerjaan. Pulang malam bagiku sudah menjadi hal yang lumrah.
Menghidupi Indra bukan hanya aku sendiri, seperti biasanya setiap keluarga pasti memiliki pemimpin. Guntur, adalah nama suamiku. Beliau bekerja sebagai pebisnis, pekerjaannya kebanyakan diselesaikan di luar kota, bahkan kadang-kadang di luar negeri. Kalau boleh sedikit bercerita, suamiku itu sebenarnya tidak begitu memuaskan. Apa lagi dia jarang sekali pulang ke rumah, kira-kira kalau menurut hitungan jariku hanya sekira 10 kali saja dalam dua bulan. Itupun hanya menumpang tidur dan mampir untuk makan saja, jadi tidak salah kalau aku sering juga keluar malam layaknya seorang gadis yang masih berumur  19 tahun, ya walaupun sebenarnya umurku 21 tahun lebih tua dari itu, tapi itu tidak mengurangi semangat jiwa mudaku. Sampai suatu ketika suamiku pulang dari Singapura, dia membawa muka yang tidak begitu bersahabat. Untung saja aku sudah pulang pukul 9.12 tadi, dan untung juga aku tidak pergi keluyuran malam ini.
Tidak ada salam atau senyuman terlintas di wajahnya. Aku tidak lagi heran kalau Mas Guntur tidak menyapaku, tetapi ada apa sebenarnya, mengapa wajahnya begitu ditekuk dan dilipat-lipat?
Aku sudah mandi dan membaringkan badanku di tempat tidur sementara Mas Guntur membersihkan badannya di kamar mandi. Rasanya sudah lama sekali sejak satu bulan yang lalu aku tidak memeluk tubuh Mas Guntur, aku sudah rindu sekali. Sembari aku mengenang masa-masaku bersama Mas Guntur rupanya Mas Guntur sudah selesai mandi dan mengejutkanku dari khayalanku saat dia menduduki tempat tidur “ada apa mas, ada masalah?”
“tidak ada”
“tapi kenapa wajah mas seperti sedang memikirkan sesuatu”
“sudahlah! Aku mau tidur. Capek!”
Ada apa sebenarnya? Tidak seperti biasanya saat aku tanya pasti Mas Guntur menjawab dengan lembut dan bercerita tentang apa yang dia lakukan saat dia bekerja. Tapi sekarang ada yang berbeda. Ya, mungkin dia memiliki masalah pekerjaan. Menurutku tidak ada salahnya kalau malam ini dijadikan malam yang spesial untuk Mas Guntur. Aku bangun ke arah meja dan menyemprotkan parfum ke badan dan sekitar leher. Aku yakin dengan cara ini Mas Guntur akan tergoda. “mas, aku rindu kamu mas. Sejak  sebulan yang lalu aku tidak lagi merasakan hangatnya pelukanmu mas. Aku rindu mas” aku memeluk Mas Guntur dari belakang sambil bercerita lebih banyak lagi tentang isi hatiku. Tetapi tanpa aku duga Mas Guntur sekarang begitu berubah. “sudah, tidur sajalah. Aku capek betul hari ini, masih banyak waktu lain”
“Waktu lain kapan mas?”
“ahh, besok ‘kan bisa?”
“tapi mas, aku maunya sekarang!”
“heh, dengar ya aku sedang tidak mau. Aku capek! Ngerti?”
Sungguh kasar Mas Guntur, tidak pernah sebelumnya dia memangil dirinya dengan sebutan ‘Aku’  ah, sudahlah mungkin memang dia sendang capek
Pagi-pagi, seperti biasa aku sudah siap dengan semua perlengkapanku, hari ini jumat. Mungkin aku akan pulang lebih cepat, jadi memungkinkan bagiku untuk lebih banyak waktu bersama Mas Guntur dan Indra. Aku lihat sarapan nasi goreng sudah disiapkan Bibi Ima, ada susu hangat dan juga telur mata sapi. Tapi sepertinya di sana sudah ada piring bekas seseorang makan. “bi, ini piring siapa?”
“ya bu, tadi bapak sudah makan duluan. Tepat waktu bibi menyiapkan makanan bapak langsung makan”
“kenapa bapak tidak ajak saya ya bi?”
“bibi tidak tahu bu, tadi juga waktu bibi sapa, bapak diam saja tidak menjawab”
“ya bi, sepertinya bapak sedang ada masalah”
“ya bu, maaf bu bibi mau ke dapur dulu”
“ya bi”
Aku masih duduk termenung sambil menopang dagu di meja makan memikirkan apa yang sedang terjadi di rumah ini. Tidak lama berselang aku mendengar suara langkah menuju ke arahku. Aku bangun dari lamunanku sambil menolehkan perlahan wajahku ke arah tangga. Ternyata Indra, anak bujangku satu-satunya. Sudah lama aku tidak memperhatikan wajahnya. Sekarang Indra duduk di depanku sambil mengangkat sendok dan mengarahkannya ke nasi goreng di atas meja. Masih memakai piyama dan rambut yang amburadul. Indra sekarang ternyata sudah lebih kurus, rambutnya pun sudah gondrong. Tapi kenapa wajahnya pucat sekali?
“Indra, kamu sakit?”
“heh?”
“kamu sakit nak?”
“apa?”
“wajah kamu pucat sekali”
“ngga kok, cuma lagi flu”
“kamu ngga sekolah hari ini?”
“ngga”
Rasanya sudah lama sekali tidak bercerita dengan Indra, sejauh ini yang aku ingat aku pernah menyuapinya saat Indra sakit waktu kelas 2 SMP.. Aku senang sekali melihat Indra makan dengan lahapnya, dia memang tidak pernah berubah. Porsi makannya selalu banyak. “ibu pergi dulu ya sayang”
Indra tidak pernah menjawab saat aku pamit pergi kerja, itu mungkin sudah menjadi kebiasaan Indra. Aku bisa maklumi itu, namanya juga anak muda.
Saat aku akan memasukkan kunci motorku yang sedang parkir di depan rumah, Mas Guntur terlihat sedang duduk berjemur di samping pohon beringin kecil . Aku mendekati Mas Guntur dan menanyai kembali ada apa gerangan kepadanya, tetapi Mas Guntur malah balik memarahi aku, berbagai omelan ia lontarkan kepadaku, tetapi yang paling membuat aku tersentak adalah ketika Mas Guntur mengatakan “ kamu tahu kenapa aku pulang lebih cepat? Aku sudah dengar cerita dari Bi Ima. kamu jadi ibu tidak becus mengurus anak, kamu lihat sekarang anak kita. Dia menjadi pengguna narkoba, sekarang dia tidak sekolah lagi gara-gara narkoba. Dan yang harus kamu lebih tahu, Indra lebih menganggap Bibi Ima sebagai ibunya. Apa kamu tidak pernah merasa menjadi seorang ibu?”. Sumpah aku tidak tahu apa-apa mengenai Indra. Tidak ada yang memberitahuku masalah ini. Apakah benar aku sudah gagal menjadi seorang ibu? Ini tidak mungkin terjadi.
Aku langsung masuk ke dalam rumah sambil mencari Indra “Indra! Indra!”
Doorr... dooorr... dooorr.... Aku gedor pintu kamarnya, sambil membujuk Indra untuk keluar, aku ingin tahu apa benar semua yang dikatakan Mas Guntur, apa benar anakku seorang pengguna narkoba? Saking paniknya sehingga sekuat tenaga aku memaksa membuka pintu kamar Indra namun tetap tidak terbuka, Indra mengunci pintunya dari dalam. Aku hanya bisa menangis, menangisi ketidakberdayaanku saat mengetahui kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kesibukanku. Aku kembali ke kamar, aku lepaskan semua peralatan dan perhiasan yang menempel di tubuhku. Aku menghadap cermin besar di depan meja rias. Menatap diriku yang tidak berdaya, apa gunanya semua yang telah aku kerjakan selama ini? Apa gunanya kepuasan hati tetapi keluargaku tidak terurus? Apa gunanya aku terlihat tegar tapi tidak mampu mengurus keluarga? Aku merasa menjadi wanita yang paling gagal, tidak becus dalam mengurus anak. Aku berbaring di tempat tidur, tidak lagi terlintas di pikiranku masalah pekerjaan atau apapun yang akan terjadi di luar sana jika aku tidak hadir dalam situasi dan momen itu.
Kira-kira 5 jam aku berada dalam kamar merenungi kenyataan hidup yang telah gagal, rupanya masih belum habis bencana yang aku terima “Rina! Bi Ima! Cepat tolong bapak, ke kamar Indra sekarang!”
Ada apa lagi Mas Guntur memanggil, mengapa Bibi Ima juga dipanggil. Aku segera bergegas menuju kamar Indra, sambil harap-harap cemas aku berlari kecil ke lantai atas dan bersamaan dengan itu aku diikuti oleh Bibi Ima yang juga berlari di belakangku.
Aku melihat pintu kamar Indra sudah terbuka, saat aku akan masuk ternyata Mas Guntur keluar dari kamar Indra sambil menggendong Indra. “ada apa ini mas? Kenapa Indra? Kenapa Indra digendong?”
“sudah, nanti mas jelaskan sekarang kamu buka pintu mobil di depan, kita bawa Indra ke rumah sakit”
Tanpa pikir panjang lagi aku turun ke bawah mancari kunci mobil Xenia Mas Guntur, kunci mobilnya biasa tergantung di belakang pintu di dalam kamar. Setelah dapat aku lari lagi ke depan dan membuka pintu mobil, tidak lama Mas Guntur keluar bersama Bibi Ima membawa Indra keluar. “ayo bantu Indra, dekap tubuhnya jangan sampai jatuh”
Aku masuk ke dalam di kursi bagian tengah bersama Bibi Ima, kami menopang tubuh Indra. Aku melihat mulut Indra sudah dipenuhi buih putih, persis seperti orang yang sedang menyikat gigi. Tetapi bau buih ini berbeda, tidak seperti bau pasta gigi. Sampai dirumah sakit Indra dimasukkan ke raung ICU, sambil menunggu aku memeluk Mas Guntur dan Bibi Ima juga duduk di sampingku, dengan nada yang agak bergetar Bi Ima bebicara denganku “maaf ya bu, bibi tidak pernah menceritakan masalah ini kepada ibu. Bibi sebenarnya kasihan dengan Mas Indra karena Mas Indra tidak memiliki teman dan tidak lagi mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Mas Indra lebih sering berbicara dengan saya. Sebenarnya saya pernah mendapatkan surat panggilan dari sekolah mengenai masalah Mas Indra, namun Mas Indra tidak ingin ibu tahu masalah yang dia hadapi”
“ya bi tidak apa-apa, memang saya yang salah. Jarang sekali memikirkan keluarga dan terlalu sibuk dengan pekerjaanku”
Aku merasa sangat menyesal, anak bujang satu-satu yang aku harapkan nantinya menjadi seorang yang hebat malah terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Apa lagi yang bisa aku lakukan, seandainya saja aku bisa memutar balik waktu aku mau mengubah ini semua.
Sementara aku memeluk Mas Guntur, dokter yang memeriksa Indra keluar dari ruang ICU dan mengatakan bahwa Indra masih ada harapan, tetapi Indra harus dirawat intensif karena overdosis dan dokter juga menyarankan untuk memasukkan Indra ke tempat rehabilitasi apabila keadaanya sudah baik nanti. Mulai saat itu aku berusaha membagi waktu antara pekerjaan dan kelurga, selaluku sempatkan waktu menemani Indra di rumah sakit. Aku ingin menjadi seorang ibu yang sebenarnya buka hanya predikat sebagai seorang wanita yang memiliki anak, tetapi juga seorang ibu yang memberika kasih sayangnya terhadap anaknya. Walaupun harus mengatur waktu semaksimal mungkin, namun itu bukanlah penghalang untukku berubah.
Setelah tiga bulan Indra dirawat dirumah sakit dan keadaannya lebih membaik. Sekarang Indra sedang menjalai perawatan di tempat rehabilitasi di Bengkulu, tentunya aku akan selalu ada disampingnya sebagai seorang ibu. Yang aku tanamkan dalam hatiku sekarang adalah aku berjanji untuk menjadi seorang ibu yang sebenarnya. Mudah-mudahan Indra cepat sembuh dan dapat melajutkan kehidupan seperti anak-anak muda lainnya. Aku yakin setelah ini keadaan menjadi lebih baik.

Jumat, 20 Juli 2012

Facebook bagi kaulamuda

seperti yang kita alami sekarang bahwa "wabah" facebook sedang mrambah dan berkembang cepat. terutama di Amerika serikat dan Indonesia. Indonesia merupakan pengguna facebook terbanyak ke-2 di dunia setelah Amerika serikat, namu aoakah facebook sebagai jejaring sosial digunakan secara tepat?
sekara kita perhatikan di Indonesia, bagi kaulamuda facebook lebih sering digunakan untuk hal-hal yang bersifat komersial, seperti adijadikan ajang untuk mencari pacar, dijadikan tempat untuk melampiaskan perasaan, tempat bertengkar, dan bahkan ada yang sampai di culik gara-gara facebook. memang tidak begitu banya yang menggunakannya sebagai hal negatif, tetapi yang lebih sering ialah mereka menggunakan facebook sebagai pengganti diary. seperti mengupdate statu "huf, bete :(" atau "oh my god, hari ini dia senyum sama aku".
ya, memang seperti itu kenyataannya. sebenarnya tidak terlalu penting facebook digunakan untuk hal-hal seperti tadi, asalkan facebook tidak menggantikan hal-hal yang telah tertanam di diri kita. seperti menjadikan facebook tempat berdoa "tuhan, aku ingin dia tahu aku sayang dia". apakah kita sadar bahwa hal itu sudah termasuk meracuni diri sendiri, jika ingin berdoa panjatkanlah dengan kata-kata, bukannya melalui facebook. seandainya memang bisa seperti itu, apa tuhan akan membuka facebookmu dan menyukai statusmu dan kemudian berkomentar "iya aku akan berusaha memberi tahunya".
mulai sekarang gunakan facebook sebagaimana mestinya..
def

Minggu, 04 Desember 2011

cerpen


SEBUAH CERPEN

AKAN AKU LAMAR
KAU APAPUN
RESIKONYA





Oleh                      : Defita Juliansyah
Npm                      : 1A1011019
Prodi                     : Bahasa dan sastra indonesia
Kelas                     : A
Smester               : 1
 







PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU

AKAN AKU LAMAR KAMU APAPUN RESIKONYA

Sabtu itu di bawah pohon beringin di pinggir waduk  terlihat sepasang kekasih sedang memadu kasih
“mas kapan sih katanya mas mau lamar aku? Tapi sampai sekarang belum kesampaian juga” ucap Ratih mengeluh
“iya Ratih, mas pasti akan melamar kamu tetapi kamu harus sabar sebab sekarang mas belum punya uang untuk melamar kamu” bujuk Indra
“ah mas dari dulu setiap Ratih tanya kapan mau melamar Ratih pasti jawabannya belum punya uang, lalu kapan punya uangnya?” Ratih menggerutuh sambl memalingkan mukanya ke arah waduk
“mau bagaimana lagi, kamu ‘kan tahu kalau sampai sekarang mas masih belum punya pekerjaan tetap hanya pekerjaan serabutan apakah sudah cukup untuk menghidupi kamu? Sedangkan saat ini saja mas masih menumpang dengan orang tua, mas pasti melamar kamu sayang mas hanya minta kamu sabar sebertar saja, beri mas waktu untuk mencari uang untuk melamar kamu”Indra kembali membujuk Ratih dengan rayuannya
“baik mas Ratih akan sabar, Ratih hanya berharap kata-kata mas itu bukan hanya di bibir saja” harap Ratih kepada Indra. Terlihat berkaca-kaca mata Ratih, kemudian tanpa ada instruksi Ratih langsung memeluk erat Indra. Saat itu terasa berdegup kencang dada Indra sebeb Ratih yang ia pacari selama lima tahun itu belum dapat ia bahagiakan. “iya sayang, mas bersumpah akan menepati janji mas untuk melamar kamu bagaimanapun caranya” ucap Indra dengan suara yang lembut namun begitu tegas. Sedikit terasa tenang hati Ratih rupanya lelaki ang ia cintai ini tidak pernah bergurau untuk melamarnya.
Saat matahari mulai menapaki tempat peristirahatannya kedua sejoli itu terlihat meninggalkan waduk tersebut
“mas pulang ya” ucap Indra dengan senyum simpulnya yang begitu manis
“iya mas, hati-hati di jalan ya” balas Ratih sambil melontarkan senyuman mautnya
Seperti biasa Indra langsung ngebut pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah tanpa memberi salam kepada ibunya yang sedang beres-beres Indra langsung masuk kedalam kamar dan mengurung diri. “Indra! Ada apa? Kenapa kamu seperti sedang dikejar setan begitu?” seru ibunya sambil mengetuk pintu kamar Indra yang terlhiat begitu memprihatinkan
“tidak ada bu, Indra hanya kelelahan sekarang mau tidur dulu” jawab Indra dari dalam kamarnya
“oh, ibu kira ada apa? Ya sudah daripada kamu tidur lebih baik kamu bantu ayah kamu di kebun sana” perintah ibu Indra dengan suara lembutnya
“Indra masih lelah bu besok saja ya bantu ayahnya!” Indra kembali menjawab
“ah, kau  ini setiap kali ibu perintah pasti ada saja jawabannya, mau sampai kapan kamu begini?” nasehat ibu Indra. Lalu Indra langsung keluar sambil membanting pintu dan berkata “ah ibu ini, Indra ‘kan sudah bilang Indra sedang lelah memangnya ibu tidak mngerti bahasa manusia ya?”
Sontak ibu Indra tertegun melihat kelakuan anaknya yang begitu brutal, dia heran apa yang sebenarnya sedang terjadi terhadap anaknya karena seumur hidupnya bersama keluarga ini baru sekali ini Indra berani membentaknya. “ada apa nak, kenapa kamu bebuat seperti ini? Apa kamu punya masalah?” tanya ibu  Indra dengan nada lembut dan hampir meneteskan air mata. Melihat ibunya sedih Indra tersadar bahwa dia telah menyakiti perasaan ibunya, amarah Indrapun layu dan seraya berkata “maafkan Indra bu, Indra sudah membentak ibu” Indra berlutut dan memengang kaki ibunya sambil meneteskan air mata
“tidak apa-apa nak, coba sekarang kamu ceritakan apa yang sedang tejadi” bujuk ibu Indra
Dari balik pintu depan terdengar suara teriakan “Indra!! Apa yang sedang kamu lakukan” ternyata ayah Indra mendengar kejadian ini sejak tadi dari luar rumah, tanpa fikir panjang ayah Indra langsung masuk kedalam rumah da menapar Indra plaaakk.. pipi Indra langsung memerah terkena tamparan ayahnya. “sudah yah sudah, Indra tidak mencelakai ibu Indra sedang ada masalah ayah jangan kasar begitu dengan anak sendiri” teriak ibu Indra sambil memegang tangan ayah Indra
“maaf ayah, Indra tidak bermaksud menyakiti ibu” ucap Indra takut
“lalu apa yang kamu lakukan sehingga ibumu menangis seperti ini?” bentak ayah Indra
“sudah la yah Indra ini kan sudah besar dia pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah” ibu Indra menyabarkan suaminya
“ayah, Indra sekarang sudah besar yah, bukan anak kecil lagi sekarang Indra ingin hidup seperti kawan-kawan Indra yang lain yah” ucap Indra
“maksudmu?” tanya ayah Indra
“ayah masih ingat dengan Reno ‘kan? Sekang dia sudah punya anak dua sedang aku apa? Aku masih bujang yah” ucap Indra sedikit mengeluh
“ha ha ha ha ha! Maksudmu kamu ingin menikah? Wah rupanya anak bujang kita ini memang sudah besar bu, pantas saja tingkahnya seperti orang gila selama tiga bulan ini ternyata hatinya sedang galau rupanya, ha ha ha” ayah Indra tertawa terbahak-bahak
“kalau memang itu masalahmu kenapa kamu tidak bicarakan baik-baik kepada ayah dan ibu nak?” tanya ibu Indra sambil tersenyum bahagia
“Indra malu bu, sebab sampai sekarang ini Indra belum mendapatkan pekerjaan, jangankan untuk melamar untuk makan dan tidur saja Indra masih menumpang dengan ayah dan ibu” jawab Indra malu
“yah sudah, kalau kamu memang ingin segera menikah ayah akan cari pinjaman dulu” ucap ayah indra
“tidak usah yah, Indra tidak mau lagi membebankan ayah dan ibu biar saja Indra yang cari uangnya sendiri. Indra juga takut jika Indra terlalu bergantung kepada ayah dan ibu nanti tidak bisa menghidupi  keluarga Indra, karena sudah terbiasa meminta kepada ayah dan ibu” jawab Indra tegas
“baik kalau begitu buktikan jika kamu memang ingin menjadi orang yang bertanggung jawab, ayah mau lihat bagaimana sifat seorang laki-laki menurut kamu” tantang ayah Indra
“baik ayah Indra akan ingat kata-kata ayah” jawab Indra
Pagi-pagi sekali di hari minggu itu suara sibuk sudah terdengar
“tumben nak kamu bangun pagi sekali hari minggu?” tanya ibu Indra yang sedang memasak di dapur
“iya bu Indra mau cari pekerjaan” Indra menjawab sambil tersenyum
“wah rupanya sekarang kamu sudah sadar ya?” ibu Indra sambil tersenyum
“loh memangnya selama ini Indra tidak sadar ya bu?” tanya Indra
“sudahlah, cepat bergegas cari pekerjaan, katanya mau melamar?” ibu Indra masih tersenyum
“baik bu Indra berangkat ya, assalamualaikum” Indra bergegas pergi setelah mencium tangan ibunya
“wa'alaikum salam, hati-hati di jalan nak!” seru ibu Indra sambil menyemangatinya
Memang mencari pekerjaan tidaklah mudah seperti yang dibayangkan, apalagi di kota besar seperti Bandung ini dan ditambah lagi pendidikan Indra yang hanya sebatas SLTP sepertinya bak mencari jarum di tumpukan jerami. Berkilo-kilo meter jalan yang di susuri Indra puluhan kantor ia masuki namun belum satupun yang mau menerimanya untuk bekerja, akhirnya malam sudah tiba dan Indra pulang dengan tangan hampa namun di tengah perjalanan pulang angkot yang Indra tumpangi terjebak macet sehingga rasa kecewa Indra semakin membenak, perut yang lapar karena belum makan dari pagi dan sekarang terjebak macet. Indra melirik-lirik ke arah jendela berniat mencari tempat yang akan ia jadikan sasaran melamar pekerjaan besok, namun tanpa disangka-sangka seorang waria datang dari arah samping dan sontak mangagetkan Indra “aku tak mau kalau aku dimadu, pulangkan saja kerumah orang tuaku serrr serrr” waria itu bernyanyi di depan Indra dengan suaranya yang cempreng seperti kaleng sardines “kang hayu atuh kang sumbangan buat waria kelaparan” minta waria itu
“nih” Indra memberikan uang 2000 rupiah kepada waria itu “sana pergi” tegas Indra sambil agak ketakutan
“ih si akang mah baru nyumbang dua ribu perak saja sudah kasar, capeee dehhh” waria itu menghilang entah kemana
“gila yang benar saja, hari ini aku benar-benar sial” dalam fikiran Indra
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Indra baru tiba di rumah
“bagaimana Indra, apa kamu sudah dapat pekerjaan?” tanya ayah Indra yang sedang santai di beranda rumahnya sambil minum kopi susu hangat
“belum yah” jawab Indra lesu
“memang begitu hidup di dunia ini kita orang yang tidak punya kekuasaan lama-kelamaan akan tersingkir dari peradaban orang-orang berkuasa, tetapi kamu jangan menyerah karena hari esok masih ada” ayah Indra menyemangati Indra
Indra langsung masuk kekamarnya dan beristirahat
“Indra ayo makan dulu nak, ibu sudah memasakkan jengkol kesukaan kamu”  teriak ibu Indra dari dapur
“iya bu, Indra instirahat sebentar” Indra langsung tidur karena kelelahan
Karena sudah lama menunggu Indra untuk datang makan, ibu Indra menghampiri kamar anaknya dan terlihat lah Indra yang sedang tertidur pulas dengan baju kemeja yang masih menempel di badannya “sungguh kasihan kamu nak” ucap ibu Indra lirih. Lalu ayah Indra menghampiri ibu Indra “biarkan saja bu, Indra ‘kan anak laki-laki yang anak tunggal sudah sepatutnya dia belajar menjadi dewasa jangan selalu dimanjakan, kapan lagi dia mau belajar menjadi seorang pemimpin”
“iya yah” jawab ibu Indra
“ya sudah sekarang sudah larut malam, ayo bu kita istirahat” ajak ayah Indra
Sudah tiga minggu berturut-turut Indra mencari pekerjaan namun belum juga membuahkan hasil, rasa frustasi mulai menerpa pemuda ini, Indra merenenung dalam fikirannya ia bertanya “apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan pekerjaan” lalu terlintas fikiran gila dalam otaknya, Indra teringat dengan waria yang menggodanya waktu itu, Indra mencari pakaian ibunya di dalam lemari kamar ibunya, beruntung saat itu ibu Indra sedang ke warung membeli sayuran, Indra mulai berdandan layaknya seorang wanita. Indra terkagum setelah melihat dirinya begitu persis seorang wanita dengan paras tinggi dan wajah yang oriental.
“assalamualaikum” salam ibu Indra baru pulang dari warung
Indra langsung bergegas merapihkan dirinya, ia pasti malu jika ketahuan dengan ibunya saat ia sedang berpakaian  seperti seorang wanita. Beruntung Indra tidak ketahuan dan keadaan menjadi biasa saja.
Saat malam tiba Indra pamit kepada ayah dan ibunya untuk pergi ke rumah Dadang teman sekolahnya dulu di kampung sebelah, dan tentu saja ayah dan ibunya mengizinkan karena mereka tidak sadar bahwa di dalam tas Indra dia membawa pakai ibunya.
Tentu bukan ke rumah Dadang Indra melaju tetapi ketempat dimana ia berjumpa dengan waria yang menggodanya waktu itu. Setibanya Indra di tempat itu Indra langsung menuju WC umum dan mengganti pakaiannya. “loh waria juga ya neng” goda penjaga WC umum
“sial bapak ini, jika tidak terpaksa aku juga tidak mau menjadi waria” dalam benak Indra. 8Indra langsung pergi ke pinggir jala setelah membayar WC umum
Dengan bermodalkan botol minuman bekas yang berisi batu kerikil Indra mulai beraksi menjajakan suaranya di pinggir jalanan yang macet, ternyata maet menjadi salah satu keuntungan tersendiri bagi waria di sekitar jalan ini. Malam semakin melarut dan hampr menjelang pagi, sementara dirumah, ibu Indra tidak bisa tidur dengan nyennyak karena menunggu  Indra pulang “sudahlah bu Indra itu anak laki-laki, dia bisa jaga dirinya” ucap ayah Indra yang ikut terbangun “ibu instirahat saja nanti ibu sakit jika kurang istirahat”
Pukul lima pagi Indra sudah berada dikamarnya, entah kapan ia pulang karena pintu rumah tidak terkunci sehingga Indra pulang tanpa diketahui oleh ayah atau ibunya
“Indra! Kamu sudah pulang nak?” seru ibu Indra sambil mengetuk pintu
“iya bu” jawab Indra. Beruntung Indra sudah membersihkan sisa-sisa dandanannya tadi malam hingga ibu Indra tidak curiga
“kemana kamu semalam nak? Ibu sampai tidak bisa tidur mengunggu kamu pulang” ibu Indra agak khawatir
“jagan cemas bu, Indra tadi malam memang tidak pulang karena bekerja” jawab Indra
“kerja? Kerja apa nak kok malam-malam?” tanya ibu Indra lagi
“iya bu, Indra bekerja menjaga gudang di perusahaan makanan ringan, Dadang yang mengajak Indra bu” Indra berbohong pada ibunya
“alhamdulillah, akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan juga” ibu Indra bahagia sekali mendengar ucapa anaknya
“iya bu, Indra mau istirahat dulu soalnya tadi malam tidak sempat tidur bu” ucap Indra yang masih memejamkan matanya
“Iya istirhat saja, sarapan kamu sudah ibu siapkan di meja makan” ibu Indra meninggalkan kamar Indra
Tiga bulan sudah Indra melalui kehidupan ditengah  lampu-lampu jalan dan uang yang ia dapatkan sudah lumayan, sepertinya sudah bisa membeli cincin kawin, namun malam itu ketika Indra sedang asyik menjajakan suaranya Ratih lewat di depan mukanya, tidak athu lagi apa yang harus Indra perbuat, dan sialnya Ratih melirik dan terus memperhatikan Indra. Ratih sempat curiga namun ia menepis jauh-jauh prasangka buruk tersebut karen Indra bilang bahwa ia bekerja di gudang pabrik makanan, walaupun masih terdapt rasa gundah di hati Ratih.
Hari minggu Indra mengajak Ratih ke pinggir waduk dimana tempat mereka biasa bercengkrama
“mas kemarin malam Ratih nelihat seorang waria yang wajahnya mirip sekali dengan mas” Ratih mengadu. Langsung bedegup kencang dada Indra mendengar ucapan Ratih
“ah apa maksud kamu, jadi kamu menyamakan mas dengan waria begitu?” Indra mengelak
“hahaha bukan mas, buka itu maksud Ratih tetapi lucu saja jika Ratih teringat dengan kejadian itu, Ratih membayangkan bagaimana jika mas yang jadi waria itu hihihi” Ratih tertawa terbahak
“baik kalau begitu nanti mas akan benar-benar menjadi waria, kamu mau?” ucap Indra
“jangan dong mas, Ratih tidak sudi memiliki suami yang bekerja sebagai waria, apa kata orang nanti?” jawab Ratih
Indra mulai merasa takut, tetapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, Indra sudah merasa nyaman menjadi waria pengamen. Dan uang yang ia dapatkan juga lumayan. “iya sayang mana mungkin ma seperti itu” bujuk Indra sambil tersenyum, entah itu malu atau takut.
Enam bulan sudah berlalu sejak pertama kali Indra menjadi seorang waria, jika di hitung-hitung tiga bulan lagi sepertinya sudah bisa melamar Ratih, Indra seakin semangat mengamen dan terbayang-bayang di benaknya saat ia meminang Ratih dengan hasil jerih payahnya sendiri. “pak beli rokoknya satu bungkus, berapa pak” seorang pria berumur membeli rokok di warung tempat Indra biasa istirahat setelah mengamen. “wah rupanya hari ini lumayan juga” ucap Indra menghitung hasil mengamennya. Ting ting ting ting, uang recehan Indra terjatuh, dan ia memungutnya.
“Indra? Kamu Indrakan” tanya bapak tua tadi yang teryata pak Ramhat ayah Ratih. Langung saja tidak karuan perasaan Indra melihat wajah yang dihadapinya adalah calon mertuanya sedangkan ia sedang memakai pakaian warianya “iya kamu Indra, apa yang sedang kamu lakukan? Bukankan kamu bekerja sebagai penjaga gudang, lalu mengapa pakaian kamu seperti waria seperti ini?” kembali bapak tua tersebut bertanya dengan tegas, tidak dapat berkata apa-apa lagi Indra dan hanya bisa tertunduk lesu dan malu, kecewa, takut semua bercapur dalam dada
“oh jadi ini yang kamu lakukan? Kamu menjadi banci? Aku tidak sudi memiliki menantu sepertimu! Mulai sekarang jangan kamu dekati lagi anak saya.” Ucap pak Ramhat
“tunggu pak ini tida seperti yang bapak kira” Indra coba menjelaskan
“sudahlah, aku tidak ingin melihat mukamu lagi” terlihat wajak pak ramat yang begitu marah dan kecewa
"pak tunggu dulu, dengarkan penjelasan Indra” namun pak Ramhat sudan berlalu naik angkot
Indra menyesalkan dirinya yang tidak berdaya dan tidak dapat menjelaskan kejadia yang sebenarnya kepada calon mertuanya itu, namun apa yang harus dilakukan sekarang nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin lagi dapat diperbaiki. Belum sampai pukul 12 malam Indra sudah pulang kerumah, betapa terguncangnya tubuh Indra setela melihat sosok yang duduk didepan rumahnya dia adalah pak Ramhat, calon mertuanya “astaga, aku kira pak Ramhat langsung pulang kerumah ternyata dia malah kerumahku, mati aku apa yang harus kulakukan” dalam hati Indra
Sambil merunduk ingin memberikan salam pada ayahnya “assalamualakum ayah”
“jangan cium tanganku” rupanya ayah Indra sudah mengetahui semuanya dari pak Ramhat. Indra hanya bisa terdiam dan berpatung diri di depan orang tuanya
Pura-pura tidak paham dengan keadaan Indra bertanya “ada apa ayah? Mengapa Indra tidak boleh mencium tangan ayah”
“sudahlah jangan berlagak bodoh di depak muka ayah, ternyata ini yang kamu laukan selama ini. Kau tidak perlu berkomentar pak Ramhat sudah menceritakan semuanya, ayah kecewa kepadamu kau bilang kau bekerja di pabrik ternyata kau menjadi banci jalanan. Ayah tidak sudi memiliki anak sepertimu, mulaisekarang kau pergi dan jangan kembali lagi dan jangan panggil aku ayah, aku tidak mengakui kau sebagai anakku lagi”
Mendengan ucapan ayahnya itu Indra seperti dibuang kedalam jurang yang penuh dengan duri dan semak tajam, sungguh sakit rasanya ayah yang selama ini dia sayangi dan hidup bersamanya sejak ia kecil, menggendongnya saat dia menangis, memberinya mainan saat ia sendirian dan sekarang mengusirnya dari rumah. “ayah kemana Indra akan pergi? Maafkan Indra yah, Indra tidak bermaksud mengecewakan ayah. Jangan usir Indra ayah” Indra memohon pada ayahnya
Terdengar suara isak tangis namun perlahan terdengar sayup, lalu Indra teringat pada ibunya. Indra langsung masuk rumah dan menemui ibunya, Indra memeluk kaki ibunya sambil memohon maaf, sambil menangis “ibu Indra minta maaf bu Indra tidak akan mengulangi perbuatan ini bu”
“ iya nak, ibu mengerti perasaanmu ibu juga tahu kau tak bermaksud melakukan ini koper ke depan Indra “pergi kamu, jangan kembali lagi kerumah ini jika kau masih menjadi banci!” ayah Indra sangat kecewa
Mendengar hal itu Indra menyabut koper tersebut yang berisi semua pakaiannya, dan membawanya pergi “jangan pergi nak, jangan tinggalkan ibu” ibu Indra menangis
“sudah jangan tangisi banci itu, sia-sia selama ini aku ajari dia tentang kehidupan, menjadi laki-laki, menggendongnya, memberikan mainan namu sekarang dian menjadi banci jalanan biarkan dia pergi” ayah Indra sebenarnya juga tidak tega mengusir anaknya namu apa boleh buat hati yang sudah kecewa tidak bisa diobati lagi
*****
Sementara dirumah Ratih “tidak akutidak percaya itu ayah, Indra tidak meungkin berbuat seperti itu, dia bekerja sebagai penjaga pabrik bukan  menjadi banci jalanan ayah pasti bohong, Ratih tahu selama ini ayah memang tidak pernah merestui hubungan kami karena Indra belum bekerja dan sekarang saat dia sudah bekerja ayah malah membuat berita bohong ini untuk memisahkan kamikan?” rati masih membela Indra
“dengar! Ayah sendiri yang memergokinya sedang mengamen dijalanan dan ayah langsung menemui ayahnya dan melaporkan kelakuan nista anaknya itu dan sekarang dia diusir oleh ayahnya, sekarang kamu tidak akan bertemu dengannya lagi” ayah Ratih membentak
“apa? Tega sekali ayah mengapa ayah kejam? Apa Indra punya salah terhadap ayah?” Ratih membalas
“iya! Dia seorang pencundang, tidak berpendidikan dan miskin” jawab ayah Ratih
“ohh ternyata ayah selama ini hedonis, aku baru ayahku selama adalah seorang mata duitan” Ratih langsung masuk kamar dan mengunci pintu
*****
“kemana aku harus pergi” Indra sambil mengerutkan kengingnya, “ahh sebaiknya sekarang aku beristirahat di depan toko ini, besok pagi aku harus mencari tempat tinggal...
Belum terlhiat sinar mata hari “ hoy hoy hoy bangun kamu, siapa yang suruh kamu tidur di sini” ternyata satpam penjaga toko
“maaf pak saya sedang istirahat” jawab Indra
“kalau mau istirahat itu dirumah, ini toko tempat jualan awas ya sekali lagi kamu tidur disini” kata satpam tersebut
Seorang wanita turun dari mobil sedan yang berhenti didepan toko tersebut “ ada apa pak Joni?” tanya wanita itu
“ini bu, gelandangan biasalah tidur didepan toko” satpam itu menjawab
“loh jangan begitu lah, toh diakan juga manusia” jawabya lagi
“Wah baik sekali wanita ini” fikir Indra sambil memandangi wajahnya yang cantik
“hey, sedang apa kamu? mengapa memandangi seperti itu? Sedang memikirkan hal kotor ya?” tanya satpam itu
Indra hanya bisa mengelengkan kepala seperti ketakutan “hey kamu Indrakan?”wanita itu bertanya
“iya bagaimana kamu bisa tahu?” Indra agak kebigungan
“aku Dina, apa kamu masih ingat? Akuken teman sekelamu dulu waktu di SMP, kita seing duduk berdua waktu itu masa kamu lupa?” wanita itu berusaha mengingatkan
“aku tidak ingat” Indra mnejawab
“ eh   masa lupa sih? Dina yang dulu sering mencoret seragammu itu loh tapi waktu itu aku pndak sekolah ke jakarta sebelum menuntaskan sekolahku di bandung” kembali ia menerangkan
“oh iya aku ingat, kamu Dina yang rambutnya sering dikuncir seperti ekor kuda itu ya?” Indra mulai ingat
“ah kamu itu tidak pernah berubah ya, dari dulu sering sekali mengejekku” mereka bercakap sambil mengingat memori masa lalu
“oh yah, apa yang kamu lakukan disini?” Dina bertanya
“iya aku baru saja diusir ayahku....” indra menceritakan keluh kesahnya, karena memang pada saat SMP merekan juga sering bercerita tentang kehidupan masing masing
“ohh aku paham masalahmu, bagaimana kalau kamu bekerja dengan aku?” Dina menawarkan
“dimana” tanya indra
“di sini, di toko ini. Toko ini salah satu toko miliki keluargaku dan masih ada lima toko lagi di tempat yang berbeda” terang Dina
“wah hebat sekali, tapi aku tidak memiliki keahlian dan sekolahkupun hanya sebatas SMP memangnya kau bisa dipakai bekerja?” indra merendah
“sudah, aku tahu kau itu pintar matematika, SMP dulu aku sering mencontek PR mu kau jadi kasir saja ya” usul Dina sambil tersenyum
Indra membalas senyum, itu berarti indra sudah bekerja mulai sekarang. Sejak saat itu indra bekerja dengan giat dan tekun berkat kegigihannya itu akhirnya sekarang dia menjadi  sekretaris Dina. Tidak disangka orang yang hanya berpendidikan seadanya namun memiliki kemampuan luar biasa, itu semua karena pengalaman karena dia adalan guru yang sangat bijak
Suatu hari dikantor “ Ratih, apa kamu masi mengingatku? Apa kamu masih menengguku?” dalam hati indra
“indra besok temani aku ya, aku menyegarkan fikiranku kita akan ke pantai” ajak Dina
“maaf bu sepertinya saya tidak bisa” indra menolak tawaran .gadis cantik itu
“mengapa tiba-tiba kau menolak? Tidak seperti biasanya?” Dina agak heran
“iya bu sekali lahi maaf karena besok libur jadi saya bermaksud mengunjungi orang tua dan pacar saya” jawab indra
“pacar? Kamu sudah punya pacar? Siapa?” terlihat agat kecewa Dina
“iya bu, dia Ratih” jawab indra
“oh Ratih yang sering pulang bersamamu saat SMP itu?” kembali Dina bertanya
“iya bu” indra menjawab singkat
“baiklah kita tunda saja perginya” ujar Dina
Keesokan harinya indra pergi mengunjungi ayah dan ibunya, dengan menggunakan Honda Jazz merah dan lengkap dengan Jas dan dasi pelangi di lehernya “ayah, ibu!” seru indra
“iya siapa?” sambil berteriak ibu indra menjawab
“ini indra bu” seru indra
“hah indra” dalam hati ibu indra. Langsung saja ibu indra berlari kedepan dan memandangi sosok yang sangat berbeda “indra, indra anak ibu? Ya Allah anakku. Yah, ayah cepat kemari lihat siapa yang datang” ibu indra memanggil suaminya
“Iya bu sabar” sambil membawa cangkul dan baju kusamnya ayah indra muncul dari belakang rumah “ada apa bu, dan siapa ini?”
“ini indra yah, indra anakmu” sambil memeluk ayahnya dan terlihat mata indra berkaca-kaca
“ya Allah indra, ini betul indra? Ayah rindu kepadamu nak” ucap ayah indra
“iya ayah, indra juga.... oh ya ayah apa kabar Ratih?” tanya indra
“ada baiknya kau kunjungi saja kerumahnya” jawab ayah indra
“baik yah indra langsung kerumahnya, nanti akan indra ajak kemari indra ingin melamarnya” sambil berlari, berteriak dan  mengendarai Honda Jazznya
“Assalamualaikum, Ratih! “Seru indra
“waalaikum salam, siapa ya?” jawab Ratih
“ini mas indra sayang” sambil tersenyum kepada Ratih
“mas indra? Ini mas indra?” rati langsung memeluk indra dengan kuat seakan tidak akan melepaskannya “ mas kemana saja, Ratih selalu menunggu mas Ratih rindu mas, Ratih tahu mas pasti akan pulang dan menepati janji mas” ucap Ratih sedikit mengeluarkan air mata bahagia
“Ratih siapa itu?” tanya ayah Ratih
“ini mas indra yah” jawab Ratih
“hah indra banci itu? Mau apa lagi dia datang kemari?” ucap ayah  Ratih. Namu setelah melihat penampila indra yang berbeda seakan tidak percaya ayah Ratih menerima kehadiran indra
Betapa bahagia kedua insan ini yang keian lama menunggu akahirnya dapat menikah walau harus melalui rintangan yang begitu berat, terlebih lagi Ratih yang setia menunggu penantian itu tidak sia-sia.
Walau sedikit kecewa namun Dina dapat menerima kenyataan saat dia sudah didahului oleh Ratih.
“mas punya uang buat bulan madu tidak??” Ratih tersenyum
“sepertinya aku haru mulai dari awal” kata indra sambil tersenyum
“aku terima nikahnya Ratih sulastri binti Rahmat dengan mas kawin tersebut tunai”

Sabtu, 29 Oktober 2011

Idonesia saat ini

Memalukan… Indonesia Negara Terkorup Asia Pasifik

Maret 9, 2010
oleh nusantaraku

Setelah cuti hampir 1 bulan, baru pertama kali dalam bulan Maret 2010 saya memulai artikel baru mengenai perkembangan korupsi Indonesia, khususnya periode 2008-2010. Dengan menggunakan data “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) – Hongkong dan Transfarency Internasional – Jerman, mari kita lihat perkembangan tindakan koruptif di negeri tercinta ini.
Ditengah gegap gempita pertumbuhan ekonomi yang positif pada tahun 2009 silam, ternyata Indonesia merupakan  negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi para pelaku bisnis.  Itulah hasil survei pelaku bisnis yang dirilis Senin, 8 Maret 2010 oleh perusahaan konsultan “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong [1].  Penilaian didasarkan atas pandangan ekskutif bisnis yang menjalankan usaha di 16 negara terpilih. Total responden adalah 2,174 dari berbagai kalangan eksekutif kelas menengah dan atas di Asia, Australia, dan Amerika Serikat.
“Saya akan berada paling depan dalam memberantas korupsi” - Pres. SBY
Berikut ini adalah daftar 16 Negara Terkorup di Asia Pasifik*  oleh PERC 2010
  1. Indonesia (terkorup)
  2. Kamboja (korup)
  3. Vietnam (korup)
  4. Filipina (korup)
  5. Thailand
  6. India
  7. China
  8. Taiwan
  9. Korea
  10. Macau
  11. Malaysia
  12. Jepang
  13. Amerika Serikat (bersih)
  14. Hong Kong (bersih)
  15. Australia (bersih)
  16. Singapura (terbersih)
Catatan * :  Negara Asia-Pasifik yang disurvei adalah negara yang memiliki kemajuan ekonomi cukup pesat di kawasannya dalam  beberapa tahun terakhir.
2008
Hasil survei PERC ini menyebutkan Indonesia mencetak nilai 9,07 dari angka 10 sebagai negara paling korup 2010. Ini berarti selama 2 tahun terakhir pemerintah SBY, Indonesia mendapat citra semakin memprihatinkan dalam hal tindakan hal korupsi. Pada tahun 2008, Indonesia menduduki posisi ke-3 dengan  nilai tingkat korupsi 7.98 setelah Filipina (tingkat korupsi 9.0) dan Thailand (tingkat korupsi 8.0). [2]
2009
Angka tingkat korupsi Indonesia semakin meningkat ditahun 2009 dibanding tahun 2008. Pada tahun 2009, Indonesia ‘berhasil’ menyabet prestasi sebagai negara terkorup dari 16 negara surveilances dari PERC 2009. Indonesia mendapat nilai korupsi 8.32 disusul Thailand (7.63),  Kamboja (7,25), India (7,21) and Vietnam  (7,11), Filipina (7,0).  Sementara Singapura (1,07) , Hongkong (1,89), dan Australia (2,4) menempati tiga besar negara terbersih, meskipun ada dugaan kecurangan sektor privat. Sementara Amerika Serikat menempati urutan keempat dengan skor 2,89. [3]
Jadi, dari data PERC 2010, maka dalam kurun 2008-2010, peringkat korupsi Indonesia meningkat dari 7.98 (2008.), 8.32 (2009) dan naik menjadi 9.07 (2010) dibanding dengan 16 negara Asia Pasifik lainnya. “Prestasi” dashyat ini bukanlah hal yang mengejutkan. Apabila Pak SBY selama ini suka mengklaim keberhasilan tindakan pemberantasan korupsi KPK seolah-olah kinerja pemerintahannya, maka kasus kriminalisasi pimpinan KPK (Bibit dan Chandra) setidaknya telah menurunkan kepercayaan pengusaha atas hasrat pemerintah bersama jajarannya dalam memberantas korupsi.
Ini juga memberi bukti bahwa tidaklah elok pemerintah SBY mengklaim keberhasilan KPK sebagai keberhasilan pemerintah SBY. Karena sumber terbesar permasalahan korupsi masih berada dalam kekuasaan Presiden SBY yakni lembaga Kepolisian dan Kejaksaan.  Belum lagi tindakan koruptif yang dilakukan oleh sejumlah pejabat pemerintah di berbagai instansi baik di pusat maupun daerah serta korupsi berjam’ah anggota legislatif dan kehakiman.
Sedikit Berubah, Tapi Kalah Jauh Secara Regional

Bila dalam berbagai kesempatan Presiden SBY dan tim periangnya seperti Ruhut Sitompul cs selalu ‘mencuri’ hati rakyat dengan kata-kata puji-pujian sosok SBY dalam memberantas korupsi, maka fakta sesungguhnya tidaklah secerah dan sebening serta semanis kata-kata  yang sering mereka lontarkan. Selain KPK, selama ini pemberantasan korupsi berjalan ditempat, bahkan semakin mengganas di daerah-daerah. Hanya beberapa instansi pemerintah yang menerapkan kebijakan non-koruptif yang tegas, sementara mayoritas instansi lain masih mengasah ‘kemahiran’ dalam merekayasa anggaran.
Tabel Peningkatan Indeks Persepsi Korupsi (IPK/CPI) Indonesia 2001-2009 (selengkapnya)

Tahun Survei Nilai IPK Indonesia Sumber TI
2001 1.9 CPI 2001
2002 1.9 CPI 2002
2003 1.9 CPI 2003
2004 2.0 CPI 2004
2005 2.2 CPI 2005
2006 2.4 CPI 2006
2007 2.3 CPI 2007
2008 2.6 CPI 2008
2009 2.8 CPI 2009
Meskipun data yang disampaikan Transfarency Internasional menunjukkan adanya sedikit peningkatan persepsi pemberantasan korupsi di Indonesia, namun sesungguhnya hal ini lebih ditriger oleh lembaga KPK. Hal dapat kita lihat bahwa lembaga-lembaga terkorup justru berasal dari lembaga Kepolisian, Kejaksaan dan DPR (5 Lembaga Publik Terkorup 2008).
Merujuk hal ini, maka dapat dijelasin bahwa meskipun terjadi peningkatan persepsi pemberantasan korupsi di Indonesia, namun secara regional pemberantasan korupsi Indonesia berjalan mandeg dibanding negara-negara tetangga. Salah satu permasalahan utama adalah reformasi birokrasi yang berjalan mandeg. Reformasi birokrasi di pemerintahan dan lembaga penegak hukum sekilas hanya lips service semata. Tidak ada perubahan mendasar, kecuali perubahan dikulitnya.
“Hampir Semua Pejabat Itu Korupsi ” – Mahfud MD
Derap langkah penegakkan hukum di Indonesia seakan terhenti. Hal itu salah satunya dikarenakan masih banyaknya prilaku koruptif yang ditonjolkan pejabat Indonesia. Ketua Mahkamah Konstitusi M Mahfud MD dalam diskusi ‘Akar-akar Mafia Peradilan di Indonesia (18 Feb 2010) mengatakan bahwa , “Hampir semua pejabat itu korupsi,”.
Hal ini dikarenakan birokrasi penegakkan hukum di Indonesia yang masih buruk. Sehingga memberi peluang para pejabat untuk melakukan korupsi. Dan ironisnya, belum ada satu pun Presiden yang mampu memperbaikinya, termasuk Pres. SBY. Inilah kenapa korupsi banyak terjadi bahkan menjamur di berbagai level. [4]
Catatan akhir :
Dalam berbagai event, kita sangat mengharapkan dapat meraih peringkat nomor satu. Namun prestasi yang satu ini sangat memalukan, karena Indonesia berdiri nomor 1 sebagai negara terkorup dari 16 negara dengan ekonomi sentral kawasan. Sudah saatnya, segenap bangsa mulai bercermin diri. Mulai memperbaiki diri, memperbaiki birokrasi, memperbaiki mental. Karena sesungguhnya, bukanlah tindakan korupsi itu berbahaya, namun yang lebih berbahaya adalah mental korup itu sendiri. Korup mulai dari materi, waktu, hingga integritas.
Sudah saatnya kita kembali mempelajari pemikiran yang luar biasa para tokoh bangsa yang pernah ada di Indonesia. Salah satunya adalah Wapres I Indonesia sekaligus Proklamator bangsa Indonesia Bung Hatta. Dia mungkin satu-satunya Wapres yang tidak pernah korup secuilpun baik materi maupun mental.  Selama hidupnya Bung Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Dan yang membuat saya begitu respect sama Bung Hatta adalah kisahnya sebagai seorang Wakil Presiden RI yang juga bapak proklamator harus menabung untuk membeli sepatu “bally”, tapi…. hingga akhirnya hayatnya ia harus memendam cita-citanya!