defita juliansyah
Jumat, 27 Desember 2013
Sabtu, 30 November 2013
Rabu, 19 Desember 2012
Cerpen HUJAN KEMARAU
HUJAN KEMARAU
Karya Defita Juliansyah
Pagi-pagi
di sebuah kota di daerah Bengkulu, aku memanaskan mesin mobil di garasi rumah pertanda hari ini akan melanjutkan
pekerjaan di sebuah perusahaan media cetak. Semua sudah siap, mulai dari
pakaian, sepatu, tas, make up dan
berbagai peralatan kantor sudah disiapkan di dalam tas. Tepat pukul 07.00 pagi
aku menginjak pedal gas mobilku “Indra, ibu pergi dulu ya” aku langsung melaju
ke jalan raya yang hanya berjarak 6 meter dari beranda rumah. Kira-kira 4 km
akhirnya tiba di kantor di kawasan Kepahiang. Seperti pagi-pagi biasanya,
kawan-kawan kantor menyapa dengan senyuman manis. Beginilah menjadi seorang
pemimpin redaksi di sebuah perusahaan yang menyajikan berita bagi orang banyak,
harus selalu memperbaru informasi terkait hal-hal yang sedang dibicarakan di
dunia. Hari-hari biasa aku bisa menghabiskan waktu hingga pukul 10.00 malam. Mungkin
inilah awal dari cerita yang begitu membuatku merasa bersalah dan ingin
berubah.
Indra
adalah anak satu-satunya di keluarga kami, Indra sekarang masih duduk di kelas
2 di sebuah SMA di Kepahiang. Tidak banyak yang aku ketahui tentang dia sejak Indra
duduk di kelas 2 SMP, dulu memang kami masih sering bercakap, tapi sekarang dia
semakin tertutup dan bahkan jarang sekali kami bicara. Jangankan berbicara,
saat mengucapkan salam pun Indra tidak pernah menjawab. Mau bagaimana lagi,
namanya juga wanita karier, aku harus profesional terhadap pekerjaan. Pulang
malam bagiku sudah menjadi hal yang lumrah.
Menghidupi
Indra bukan hanya aku sendiri, seperti biasanya setiap keluarga pasti memiliki
pemimpin. Guntur, adalah nama suamiku. Beliau bekerja sebagai pebisnis,
pekerjaannya kebanyakan diselesaikan di luar kota, bahkan kadang-kadang di luar
negeri. Kalau boleh sedikit bercerita, suamiku itu sebenarnya tidak begitu
memuaskan. Apa lagi dia jarang sekali pulang ke rumah, kira-kira kalau menurut
hitungan jariku hanya sekira 10 kali saja dalam dua bulan. Itupun hanya
menumpang tidur dan mampir untuk makan saja, jadi tidak salah kalau aku sering
juga keluar malam layaknya seorang gadis yang masih berumur 19 tahun, ya walaupun sebenarnya umurku 21
tahun lebih tua dari itu, tapi itu tidak mengurangi semangat jiwa mudaku.
Sampai suatu ketika suamiku pulang dari Singapura, dia membawa muka yang tidak
begitu bersahabat. Untung saja aku sudah pulang pukul 9.12 tadi, dan untung
juga aku tidak pergi keluyuran malam ini.
Tidak
ada salam atau senyuman terlintas di wajahnya. Aku tidak lagi heran kalau Mas
Guntur tidak menyapaku, tetapi ada apa sebenarnya, mengapa wajahnya begitu ditekuk
dan dilipat-lipat?
Aku
sudah mandi dan membaringkan badanku di tempat tidur sementara Mas Guntur
membersihkan badannya di kamar mandi. Rasanya sudah lama sekali sejak satu
bulan yang lalu aku tidak memeluk tubuh Mas Guntur, aku sudah rindu sekali.
Sembari aku mengenang masa-masaku bersama Mas Guntur rupanya Mas Guntur sudah
selesai mandi dan mengejutkanku dari khayalanku saat dia menduduki tempat tidur
“ada apa mas, ada masalah?”
“tidak
ada”
“tapi
kenapa wajah mas seperti sedang memikirkan sesuatu”
“sudahlah!
Aku mau tidur. Capek!”
Ada
apa sebenarnya? Tidak seperti biasanya saat aku tanya pasti Mas Guntur menjawab
dengan lembut dan bercerita tentang apa yang dia lakukan saat dia bekerja. Tapi
sekarang ada yang berbeda. Ya, mungkin dia memiliki masalah pekerjaan.
Menurutku tidak ada salahnya kalau malam ini dijadikan malam yang spesial untuk
Mas Guntur. Aku bangun ke arah meja dan menyemprotkan parfum ke badan dan
sekitar leher. Aku yakin dengan cara ini Mas Guntur akan tergoda. “mas, aku
rindu kamu mas. Sejak sebulan yang lalu
aku tidak lagi merasakan hangatnya pelukanmu mas. Aku rindu mas” aku memeluk Mas
Guntur dari belakang sambil bercerita lebih banyak lagi tentang isi hatiku.
Tetapi tanpa aku duga Mas Guntur sekarang begitu berubah. “sudah, tidur
sajalah. Aku capek betul hari ini, masih banyak waktu lain”
“Waktu
lain kapan mas?”
“ahh,
besok ‘kan bisa?”
“tapi
mas, aku maunya sekarang!”
“heh,
dengar ya aku sedang tidak mau. Aku capek! Ngerti?”
Sungguh
kasar Mas Guntur, tidak pernah sebelumnya dia memangil dirinya dengan sebutan
‘Aku’ ah, sudahlah mungkin memang dia
sendang capek
Pagi-pagi,
seperti biasa aku sudah siap dengan semua perlengkapanku, hari ini jumat.
Mungkin aku akan pulang lebih cepat, jadi memungkinkan bagiku untuk lebih
banyak waktu bersama Mas Guntur dan Indra. Aku lihat sarapan nasi goreng sudah
disiapkan Bibi Ima, ada susu hangat dan juga telur mata sapi. Tapi sepertinya
di sana sudah ada piring bekas seseorang makan. “bi, ini piring siapa?”
“ya
bu, tadi bapak sudah makan duluan. Tepat waktu bibi menyiapkan makanan bapak
langsung makan”
“kenapa
bapak tidak ajak saya ya bi?”
“bibi
tidak tahu bu, tadi juga waktu bibi sapa, bapak diam saja tidak menjawab”
“ya
bi, sepertinya bapak sedang ada masalah”
“ya
bu, maaf bu bibi mau ke dapur dulu”
“ya
bi”
Aku
masih duduk termenung sambil menopang dagu di meja makan memikirkan apa yang
sedang terjadi di rumah ini. Tidak lama berselang aku mendengar suara langkah
menuju ke arahku. Aku bangun dari lamunanku sambil menolehkan perlahan wajahku
ke arah tangga. Ternyata Indra, anak bujangku satu-satunya. Sudah lama aku
tidak memperhatikan wajahnya. Sekarang Indra duduk di depanku sambil mengangkat
sendok dan mengarahkannya ke nasi goreng di atas meja. Masih memakai piyama dan
rambut yang amburadul. Indra sekarang ternyata sudah lebih kurus, rambutnya pun
sudah gondrong. Tapi kenapa wajahnya pucat sekali?
“Indra,
kamu sakit?”
“heh?”
“kamu
sakit nak?”
“apa?”
“wajah
kamu pucat sekali”
“ngga
kok, cuma lagi flu”
“kamu
ngga sekolah hari ini?”
“ngga”
Rasanya
sudah lama sekali tidak bercerita dengan Indra, sejauh ini yang aku ingat aku
pernah menyuapinya saat Indra sakit waktu kelas 2 SMP.. Aku senang sekali
melihat Indra makan dengan lahapnya, dia memang tidak pernah berubah. Porsi
makannya selalu banyak. “ibu pergi dulu ya sayang”
Indra
tidak pernah menjawab saat aku pamit pergi kerja, itu mungkin sudah menjadi
kebiasaan Indra. Aku bisa maklumi itu, namanya juga anak muda.
Saat
aku akan memasukkan kunci motorku yang sedang parkir di depan rumah, Mas Guntur
terlihat sedang duduk berjemur di samping pohon beringin kecil . Aku mendekati Mas
Guntur dan menanyai kembali ada apa gerangan kepadanya, tetapi Mas Guntur malah
balik memarahi aku, berbagai omelan ia lontarkan kepadaku, tetapi yang paling
membuat aku tersentak adalah ketika Mas Guntur mengatakan “ kamu tahu kenapa
aku pulang lebih cepat? Aku sudah dengar cerita dari Bi Ima. kamu jadi ibu
tidak becus mengurus anak, kamu lihat sekarang anak kita. Dia menjadi pengguna
narkoba, sekarang dia tidak sekolah lagi gara-gara narkoba. Dan yang harus kamu
lebih tahu, Indra lebih menganggap Bibi Ima sebagai ibunya. Apa kamu tidak
pernah merasa menjadi seorang ibu?”. Sumpah aku tidak tahu apa-apa mengenai Indra.
Tidak ada yang memberitahuku masalah ini. Apakah benar aku sudah gagal menjadi
seorang ibu? Ini tidak mungkin terjadi.
Aku
langsung masuk ke dalam rumah sambil mencari Indra “Indra! Indra!”
Doorr...
dooorr... dooorr.... Aku gedor pintu kamarnya, sambil membujuk Indra untuk
keluar, aku ingin tahu apa benar semua yang dikatakan Mas Guntur, apa benar
anakku seorang pengguna narkoba? Saking paniknya sehingga sekuat tenaga aku
memaksa membuka pintu kamar Indra namun tetap tidak terbuka, Indra mengunci
pintunya dari dalam. Aku hanya bisa menangis, menangisi ketidakberdayaanku saat
mengetahui kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kesibukanku. Aku
kembali ke kamar, aku lepaskan semua peralatan dan perhiasan yang menempel di tubuhku.
Aku menghadap cermin besar di depan meja rias. Menatap diriku yang tidak
berdaya, apa gunanya semua yang telah aku kerjakan selama ini? Apa gunanya
kepuasan hati tetapi keluargaku tidak terurus? Apa gunanya aku terlihat tegar
tapi tidak mampu mengurus keluarga? Aku merasa menjadi wanita yang paling gagal,
tidak becus dalam mengurus anak. Aku berbaring di tempat tidur, tidak lagi
terlintas di pikiranku masalah pekerjaan atau apapun yang akan terjadi di luar
sana jika aku tidak hadir dalam situasi dan momen itu.
Kira-kira
5 jam aku berada dalam kamar merenungi kenyataan hidup yang telah gagal,
rupanya masih belum habis bencana yang aku terima “Rina! Bi Ima! Cepat tolong
bapak, ke kamar Indra sekarang!”
Ada
apa lagi Mas Guntur memanggil, mengapa Bibi Ima juga dipanggil. Aku segera
bergegas menuju kamar Indra, sambil harap-harap cemas aku berlari kecil ke
lantai atas dan bersamaan dengan itu aku diikuti oleh Bibi Ima yang juga
berlari di belakangku.
Aku
melihat pintu kamar Indra sudah terbuka, saat aku akan masuk ternyata Mas
Guntur keluar dari kamar Indra sambil menggendong Indra. “ada apa ini mas?
Kenapa Indra? Kenapa Indra digendong?”
“sudah,
nanti mas jelaskan sekarang kamu buka pintu mobil di depan, kita bawa Indra ke
rumah sakit”
Tanpa
pikir panjang lagi aku turun ke bawah mancari kunci mobil Xenia Mas Guntur, kunci
mobilnya biasa tergantung di belakang pintu di dalam kamar. Setelah dapat aku
lari lagi ke depan dan membuka pintu mobil, tidak lama Mas Guntur keluar
bersama Bibi Ima membawa Indra keluar. “ayo bantu Indra, dekap tubuhnya jangan
sampai jatuh”
Aku
masuk ke dalam di kursi bagian tengah bersama Bibi Ima, kami menopang tubuh
Indra. Aku melihat mulut Indra sudah dipenuhi buih putih, persis seperti orang
yang sedang menyikat gigi. Tetapi bau buih ini berbeda, tidak seperti bau pasta
gigi. Sampai dirumah sakit Indra dimasukkan ke raung ICU, sambil menunggu aku
memeluk Mas Guntur dan Bibi Ima juga duduk di sampingku, dengan nada yang agak
bergetar Bi Ima bebicara denganku “maaf ya bu, bibi tidak pernah menceritakan
masalah ini kepada ibu. Bibi sebenarnya kasihan dengan Mas Indra karena Mas
Indra tidak memiliki teman dan tidak lagi mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Mas Indra lebih sering berbicara dengan saya. Sebenarnya saya pernah mendapatkan
surat panggilan dari sekolah mengenai masalah Mas Indra, namun Mas Indra tidak
ingin ibu tahu masalah yang dia hadapi”
“ya
bi tidak apa-apa, memang saya yang salah. Jarang sekali memikirkan keluarga dan
terlalu sibuk dengan pekerjaanku”
Aku
merasa sangat menyesal, anak bujang satu-satu yang aku harapkan nantinya
menjadi seorang yang hebat malah terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Apa
lagi yang bisa aku lakukan, seandainya saja aku bisa memutar balik waktu aku
mau mengubah ini semua.
Sementara
aku memeluk Mas Guntur, dokter yang memeriksa Indra keluar dari ruang ICU dan
mengatakan bahwa Indra masih ada harapan, tetapi Indra harus dirawat intensif
karena overdosis dan dokter juga
menyarankan untuk memasukkan Indra ke tempat rehabilitasi apabila keadaanya
sudah baik nanti. Mulai saat itu aku berusaha membagi waktu antara pekerjaan
dan kelurga, selaluku sempatkan waktu menemani Indra di rumah sakit. Aku ingin
menjadi seorang ibu yang sebenarnya buka hanya predikat sebagai seorang wanita
yang memiliki anak, tetapi juga seorang ibu yang memberika kasih sayangnya
terhadap anaknya. Walaupun harus mengatur waktu semaksimal mungkin, namun itu
bukanlah penghalang untukku berubah.
Setelah
tiga bulan Indra dirawat dirumah sakit dan keadaannya lebih membaik. Sekarang
Indra sedang menjalai perawatan di tempat rehabilitasi di Bengkulu, tentunya
aku akan selalu ada disampingnya sebagai seorang ibu. Yang aku tanamkan dalam
hatiku sekarang adalah aku berjanji untuk menjadi seorang ibu yang sebenarnya. Mudah-mudahan
Indra cepat sembuh dan dapat melajutkan kehidupan seperti anak-anak muda
lainnya. Aku yakin setelah ini keadaan menjadi lebih baik.
Jumat, 20 Juli 2012
Facebook bagi kaulamuda
seperti yang kita alami sekarang bahwa "wabah" facebook sedang mrambah dan berkembang cepat. terutama di Amerika serikat dan Indonesia. Indonesia merupakan pengguna facebook terbanyak ke-2 di dunia setelah Amerika serikat, namu aoakah facebook sebagai jejaring sosial digunakan secara tepat?
sekara kita perhatikan di Indonesia, bagi kaulamuda facebook lebih sering digunakan untuk hal-hal yang bersifat komersial, seperti adijadikan ajang untuk mencari pacar, dijadikan tempat untuk melampiaskan perasaan, tempat bertengkar, dan bahkan ada yang sampai di culik gara-gara facebook. memang tidak begitu banya yang menggunakannya sebagai hal negatif, tetapi yang lebih sering ialah mereka menggunakan facebook sebagai pengganti diary. seperti mengupdate statu "huf, bete :(" atau "oh my god, hari ini dia senyum sama aku".
ya, memang seperti itu kenyataannya. sebenarnya tidak terlalu penting facebook digunakan untuk hal-hal seperti tadi, asalkan facebook tidak menggantikan hal-hal yang telah tertanam di diri kita. seperti menjadikan facebook tempat berdoa "tuhan, aku ingin dia tahu aku sayang dia". apakah kita sadar bahwa hal itu sudah termasuk meracuni diri sendiri, jika ingin berdoa panjatkanlah dengan kata-kata, bukannya melalui facebook. seandainya memang bisa seperti itu, apa tuhan akan membuka facebookmu dan menyukai statusmu dan kemudian berkomentar "iya aku akan berusaha memberi tahunya".
mulai sekarang gunakan facebook sebagaimana mestinya..
def
sekara kita perhatikan di Indonesia, bagi kaulamuda facebook lebih sering digunakan untuk hal-hal yang bersifat komersial, seperti adijadikan ajang untuk mencari pacar, dijadikan tempat untuk melampiaskan perasaan, tempat bertengkar, dan bahkan ada yang sampai di culik gara-gara facebook. memang tidak begitu banya yang menggunakannya sebagai hal negatif, tetapi yang lebih sering ialah mereka menggunakan facebook sebagai pengganti diary. seperti mengupdate statu "huf, bete :(" atau "oh my god, hari ini dia senyum sama aku".
ya, memang seperti itu kenyataannya. sebenarnya tidak terlalu penting facebook digunakan untuk hal-hal seperti tadi, asalkan facebook tidak menggantikan hal-hal yang telah tertanam di diri kita. seperti menjadikan facebook tempat berdoa "tuhan, aku ingin dia tahu aku sayang dia". apakah kita sadar bahwa hal itu sudah termasuk meracuni diri sendiri, jika ingin berdoa panjatkanlah dengan kata-kata, bukannya melalui facebook. seandainya memang bisa seperti itu, apa tuhan akan membuka facebookmu dan menyukai statusmu dan kemudian berkomentar "iya aku akan berusaha memberi tahunya".
mulai sekarang gunakan facebook sebagaimana mestinya..
def
Minggu, 04 Desember 2011
cerpen
SEBUAH CERPEN

AKAN AKU
LAMAR
KAU APAPUN
RESIKONYA
|
PENDIDIKAN BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
AKAN AKU LAMAR KAMU
APAPUN RESIKONYA
Sabtu itu di bawah
pohon beringin di pinggir waduk terlihat
sepasang kekasih sedang memadu kasih
“mas kapan sih
katanya mas mau lamar aku? Tapi sampai sekarang belum kesampaian juga” ucap Ratih
mengeluh
“iya Ratih, mas
pasti akan melamar kamu tetapi kamu harus sabar sebab sekarang mas belum punya
uang untuk melamar kamu” bujuk Indra
“ah mas dari dulu
setiap Ratih tanya kapan mau melamar Ratih pasti jawabannya belum punya uang,
lalu kapan punya uangnya?” Ratih menggerutuh sambl memalingkan mukanya ke arah
waduk
“mau bagaimana
lagi, kamu ‘kan tahu kalau sampai sekarang mas masih belum punya pekerjaan
tetap hanya pekerjaan serabutan apakah sudah cukup untuk menghidupi kamu?
Sedangkan saat ini saja mas masih menumpang dengan orang tua, mas pasti melamar
kamu sayang mas hanya minta kamu sabar sebertar saja, beri mas waktu untuk
mencari uang untuk melamar kamu”Indra kembali membujuk Ratih dengan rayuannya
“baik mas Ratih
akan sabar, Ratih hanya berharap kata-kata mas itu bukan hanya di bibir saja”
harap Ratih kepada Indra. Terlihat berkaca-kaca mata Ratih, kemudian tanpa ada
instruksi Ratih langsung memeluk erat Indra. Saat itu terasa berdegup kencang
dada Indra sebeb Ratih yang ia pacari selama lima tahun itu belum dapat ia
bahagiakan. “iya sayang, mas bersumpah akan menepati janji mas untuk melamar
kamu bagaimanapun caranya” ucap Indra dengan suara yang lembut namun begitu
tegas. Sedikit terasa tenang hati Ratih rupanya lelaki ang ia cintai ini tidak
pernah bergurau untuk melamarnya.
Saat matahari mulai
menapaki tempat peristirahatannya kedua sejoli itu terlihat meninggalkan waduk
tersebut
“mas pulang ya”
ucap Indra dengan senyum simpulnya yang begitu manis
“iya mas, hati-hati
di jalan ya” balas Ratih sambil melontarkan senyuman mautnya
Seperti biasa Indra
langsung ngebut pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah tanpa memberi salam
kepada ibunya yang sedang beres-beres Indra langsung masuk kedalam kamar dan
mengurung diri. “Indra! Ada apa? Kenapa kamu seperti sedang dikejar setan
begitu?” seru ibunya sambil mengetuk pintu kamar Indra yang terlhiat begitu
memprihatinkan
“tidak ada bu, Indra
hanya kelelahan sekarang mau tidur dulu” jawab Indra dari dalam kamarnya
“oh, ibu kira ada
apa? Ya sudah daripada kamu tidur lebih baik kamu bantu ayah kamu di kebun
sana” perintah ibu Indra dengan suara lembutnya
“Indra masih lelah
bu besok saja ya bantu ayahnya!” Indra kembali menjawab
“ah, kau ini setiap kali ibu perintah pasti ada saja
jawabannya, mau sampai kapan kamu begini?” nasehat ibu Indra. Lalu Indra
langsung keluar sambil membanting pintu dan berkata “ah ibu ini, Indra ‘kan
sudah bilang Indra sedang lelah memangnya ibu tidak mngerti bahasa manusia ya?”
Sontak ibu Indra
tertegun melihat kelakuan anaknya yang begitu brutal, dia heran apa yang
sebenarnya sedang terjadi terhadap anaknya karena seumur hidupnya bersama
keluarga ini baru sekali ini Indra berani membentaknya. “ada apa nak, kenapa
kamu bebuat seperti ini? Apa kamu punya masalah?” tanya ibu Indra dengan nada lembut dan hampir
meneteskan air mata. Melihat ibunya sedih Indra tersadar bahwa dia telah
menyakiti perasaan ibunya, amarah Indrapun layu dan seraya berkata “maafkan Indra
bu, Indra sudah membentak ibu” Indra berlutut dan memengang kaki ibunya sambil
meneteskan air mata
“tidak apa-apa nak,
coba sekarang kamu ceritakan apa yang sedang tejadi” bujuk ibu Indra
Dari balik pintu
depan terdengar suara teriakan “Indra!! Apa yang sedang kamu lakukan” ternyata
ayah Indra mendengar kejadian ini sejak tadi dari luar rumah, tanpa fikir
panjang ayah Indra langsung masuk kedalam rumah da menapar Indra plaaakk.. pipi
Indra langsung memerah terkena tamparan ayahnya. “sudah yah sudah, Indra tidak
mencelakai ibu Indra sedang ada masalah ayah jangan kasar begitu dengan anak
sendiri” teriak ibu Indra sambil memegang tangan ayah Indra
“maaf ayah, Indra
tidak bermaksud menyakiti ibu” ucap Indra takut
“lalu apa yang kamu
lakukan sehingga ibumu menangis seperti ini?” bentak ayah Indra
“sudah la yah Indra
ini kan sudah besar dia pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah” ibu Indra
menyabarkan suaminya
“ayah, Indra
sekarang sudah besar yah, bukan anak kecil lagi sekarang Indra ingin hidup
seperti kawan-kawan Indra yang lain yah” ucap Indra
“maksudmu?” tanya
ayah Indra
“ayah masih ingat
dengan Reno ‘kan? Sekang dia sudah punya anak dua sedang aku apa? Aku masih
bujang yah” ucap Indra sedikit mengeluh
“ha ha ha ha ha!
Maksudmu kamu ingin menikah? Wah rupanya anak bujang kita ini memang sudah besar
bu, pantas saja tingkahnya seperti orang gila selama tiga bulan ini ternyata
hatinya sedang galau rupanya, ha ha ha” ayah Indra tertawa terbahak-bahak
“kalau memang itu
masalahmu kenapa kamu tidak bicarakan baik-baik kepada ayah dan ibu nak?” tanya
ibu Indra sambil tersenyum bahagia
“Indra malu bu,
sebab sampai sekarang ini Indra belum mendapatkan pekerjaan, jangankan untuk
melamar untuk makan dan tidur saja Indra masih menumpang dengan ayah dan ibu”
jawab Indra malu
“yah sudah, kalau
kamu memang ingin segera menikah ayah akan cari pinjaman dulu” ucap ayah indra
“tidak usah yah, Indra
tidak mau lagi membebankan ayah dan ibu biar saja Indra yang cari uangnya
sendiri. Indra juga takut jika Indra terlalu bergantung kepada ayah dan ibu
nanti tidak bisa menghidupi keluarga Indra,
karena sudah terbiasa meminta kepada ayah dan ibu” jawab Indra tegas
“baik kalau begitu
buktikan jika kamu memang ingin menjadi orang yang bertanggung jawab, ayah mau
lihat bagaimana sifat seorang laki-laki menurut kamu” tantang ayah Indra
“baik ayah Indra
akan ingat kata-kata ayah” jawab Indra
Pagi-pagi sekali di
hari minggu itu suara sibuk sudah terdengar
“tumben nak kamu
bangun pagi sekali hari minggu?” tanya ibu Indra yang sedang memasak di dapur
“iya bu Indra mau
cari pekerjaan” Indra menjawab sambil tersenyum
“wah rupanya
sekarang kamu sudah sadar ya?” ibu Indra sambil tersenyum
“loh memangnya
selama ini Indra tidak sadar ya bu?” tanya Indra
“sudahlah, cepat
bergegas cari pekerjaan, katanya mau melamar?” ibu Indra masih tersenyum
“baik bu Indra
berangkat ya, assalamualaikum” Indra bergegas pergi setelah mencium tangan ibunya
“wa'alaikum salam,
hati-hati di jalan nak!” seru ibu Indra sambil menyemangatinya
Memang mencari
pekerjaan tidaklah mudah seperti yang dibayangkan, apalagi di kota besar
seperti Bandung ini dan ditambah lagi pendidikan Indra yang hanya sebatas SLTP
sepertinya bak mencari jarum di tumpukan jerami. Berkilo-kilo meter jalan yang
di susuri Indra puluhan kantor ia masuki namun belum satupun yang mau
menerimanya untuk bekerja, akhirnya malam sudah tiba dan Indra pulang dengan
tangan hampa namun di tengah perjalanan pulang angkot yang Indra tumpangi
terjebak macet sehingga rasa kecewa Indra semakin membenak, perut yang lapar
karena belum makan dari pagi dan sekarang terjebak macet. Indra melirik-lirik
ke arah jendela berniat mencari tempat yang akan ia jadikan sasaran melamar
pekerjaan besok, namun tanpa disangka-sangka seorang waria datang dari arah
samping dan sontak mangagetkan Indra “aku tak mau kalau aku dimadu, pulangkan
saja kerumah orang tuaku serrr serrr” waria itu bernyanyi di depan Indra dengan
suaranya yang cempreng seperti kaleng sardines “kang hayu atuh kang sumbangan
buat waria kelaparan” minta waria itu
“nih” Indra
memberikan uang 2000 rupiah kepada waria itu “sana pergi” tegas Indra sambil
agak ketakutan
“ih si akang mah
baru nyumbang dua ribu perak saja sudah kasar, capeee dehhh” waria itu
menghilang entah kemana
“gila yang benar
saja, hari ini aku benar-benar sial” dalam fikiran Indra
Jam sudah
menunjukkan pukul sembilan malam dan Indra baru tiba di rumah
“bagaimana Indra,
apa kamu sudah dapat pekerjaan?” tanya ayah Indra yang sedang santai di beranda
rumahnya sambil minum kopi susu hangat
“belum yah” jawab Indra
lesu
“memang begitu
hidup di dunia ini kita orang yang tidak punya kekuasaan lama-kelamaan akan
tersingkir dari peradaban orang-orang berkuasa, tetapi kamu jangan menyerah
karena hari esok masih ada” ayah Indra menyemangati Indra
Indra langsung
masuk kekamarnya dan beristirahat
“Indra ayo makan
dulu nak, ibu sudah memasakkan jengkol kesukaan kamu” teriak ibu Indra dari dapur
“iya bu, Indra
instirahat sebentar” Indra langsung tidur karena kelelahan
Karena sudah lama
menunggu Indra untuk datang makan, ibu Indra menghampiri kamar anaknya dan
terlihat lah Indra yang sedang tertidur pulas dengan baju kemeja yang masih menempel
di badannya “sungguh kasihan kamu nak” ucap ibu Indra lirih. Lalu ayah Indra
menghampiri ibu Indra “biarkan saja bu, Indra ‘kan anak laki-laki yang anak
tunggal sudah sepatutnya dia belajar menjadi dewasa jangan selalu dimanjakan,
kapan lagi dia mau belajar menjadi seorang pemimpin”
“iya yah” jawab ibu
Indra
“ya sudah sekarang
sudah larut malam, ayo bu kita istirahat” ajak ayah Indra
Sudah tiga minggu
berturut-turut Indra mencari pekerjaan namun belum juga membuahkan hasil, rasa
frustasi mulai menerpa pemuda ini, Indra merenenung dalam fikirannya ia
bertanya “apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan pekerjaan” lalu terlintas
fikiran gila dalam otaknya, Indra teringat dengan waria yang menggodanya waktu
itu, Indra mencari pakaian ibunya di dalam lemari kamar ibunya, beruntung saat
itu ibu Indra sedang ke warung membeli sayuran, Indra mulai berdandan layaknya
seorang wanita. Indra terkagum setelah melihat dirinya begitu persis seorang
wanita dengan paras tinggi dan wajah yang oriental.
“assalamualaikum”
salam ibu Indra baru pulang dari warung
Indra langsung
bergegas merapihkan dirinya, ia pasti malu jika ketahuan dengan ibunya saat ia
sedang berpakaian seperti seorang wanita.
Beruntung Indra tidak ketahuan dan keadaan menjadi biasa saja.
Saat malam tiba Indra
pamit kepada ayah dan ibunya untuk pergi ke rumah Dadang teman sekolahnya dulu
di kampung sebelah, dan tentu saja ayah dan ibunya mengizinkan karena mereka
tidak sadar bahwa di dalam tas Indra dia membawa pakai ibunya.
Tentu bukan ke
rumah Dadang Indra melaju tetapi ketempat dimana ia berjumpa dengan waria yang
menggodanya waktu itu. Setibanya Indra di tempat itu Indra langsung menuju WC
umum dan mengganti pakaiannya. “loh waria juga ya neng” goda penjaga WC umum
“sial bapak ini,
jika tidak terpaksa aku juga tidak mau menjadi waria” dalam benak Indra. 8Indra
langsung pergi ke pinggir jala setelah membayar WC umum
Dengan bermodalkan
botol minuman bekas yang berisi batu kerikil Indra mulai beraksi menjajakan
suaranya di pinggir jalanan yang macet, ternyata maet menjadi salah satu
keuntungan tersendiri bagi waria di sekitar jalan ini. Malam semakin melarut
dan hampr menjelang pagi, sementara dirumah, ibu Indra tidak bisa tidur dengan
nyennyak karena menunggu Indra pulang
“sudahlah bu Indra itu anak laki-laki, dia bisa jaga dirinya” ucap ayah Indra
yang ikut terbangun “ibu instirahat saja nanti ibu sakit jika kurang istirahat”
Pukul lima pagi Indra
sudah berada dikamarnya, entah kapan ia pulang karena pintu rumah tidak terkunci
sehingga Indra pulang tanpa diketahui oleh ayah atau ibunya
“Indra! Kamu sudah
pulang nak?” seru ibu Indra sambil mengetuk pintu
“iya bu” jawab Indra.
Beruntung Indra sudah membersihkan sisa-sisa dandanannya tadi malam hingga ibu Indra
tidak curiga
“kemana kamu
semalam nak? Ibu sampai tidak bisa tidur mengunggu kamu pulang” ibu Indra agak
khawatir
“jagan cemas bu, Indra
tadi malam memang tidak pulang karena bekerja” jawab Indra
“kerja? Kerja apa
nak kok malam-malam?” tanya ibu Indra lagi
“iya bu, Indra bekerja
menjaga gudang di perusahaan makanan ringan, Dadang yang mengajak Indra bu” Indra
berbohong pada ibunya
“alhamdulillah,
akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan juga” ibu Indra bahagia sekali mendengar
ucapa anaknya
“iya bu, Indra mau
istirahat dulu soalnya tadi malam tidak sempat tidur bu” ucap Indra yang masih
memejamkan matanya
“Iya istirhat saja,
sarapan kamu sudah ibu siapkan di meja makan” ibu Indra meninggalkan kamar Indra
Tiga bulan sudah Indra
melalui kehidupan ditengah lampu-lampu
jalan dan uang yang ia dapatkan sudah lumayan, sepertinya sudah bisa membeli
cincin kawin, namun malam itu ketika Indra sedang asyik menjajakan suaranya Ratih
lewat di depan mukanya, tidak athu lagi apa yang harus Indra perbuat, dan
sialnya Ratih melirik dan terus memperhatikan Indra. Ratih sempat curiga namun
ia menepis jauh-jauh prasangka buruk tersebut karen Indra bilang bahwa ia
bekerja di gudang pabrik makanan, walaupun masih terdapt rasa gundah di hati Ratih.
Hari minggu Indra
mengajak Ratih ke pinggir waduk dimana tempat mereka biasa bercengkrama
“mas kemarin malam Ratih
nelihat seorang waria yang wajahnya mirip sekali dengan mas” Ratih mengadu.
Langsung bedegup kencang dada Indra mendengar ucapan Ratih
“ah apa maksud
kamu, jadi kamu menyamakan mas dengan waria begitu?” Indra mengelak
“hahaha bukan mas,
buka itu maksud Ratih tetapi lucu saja jika Ratih teringat dengan kejadian itu,
Ratih membayangkan bagaimana jika mas yang jadi waria itu hihihi” Ratih tertawa
terbahak
“baik kalau begitu
nanti mas akan benar-benar menjadi waria, kamu mau?” ucap Indra
“jangan dong mas, Ratih
tidak sudi memiliki suami yang bekerja sebagai waria, apa kata orang nanti?”
jawab Ratih
Indra mulai merasa
takut, tetapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, Indra sudah merasa
nyaman menjadi waria pengamen. Dan uang yang ia dapatkan juga lumayan. “iya
sayang mana mungkin ma seperti itu” bujuk Indra sambil tersenyum, entah itu
malu atau takut.
Enam bulan sudah
berlalu sejak pertama kali Indra menjadi seorang waria, jika di hitung-hitung
tiga bulan lagi sepertinya sudah bisa melamar Ratih, Indra seakin semangat
mengamen dan terbayang-bayang di benaknya saat ia meminang Ratih dengan hasil
jerih payahnya sendiri. “pak beli rokoknya satu bungkus, berapa pak” seorang
pria berumur membeli rokok di warung tempat Indra biasa istirahat setelah
mengamen. “wah rupanya hari ini lumayan juga” ucap Indra menghitung hasil
mengamennya. Ting ting ting ting, uang recehan Indra terjatuh, dan ia
memungutnya.
“Indra? Kamu Indrakan”
tanya bapak tua tadi yang teryata pak Ramhat ayah Ratih. Langung saja tidak
karuan perasaan Indra melihat wajah yang dihadapinya adalah calon mertuanya
sedangkan ia sedang memakai pakaian warianya “iya kamu Indra, apa yang sedang
kamu lakukan? Bukankan kamu bekerja sebagai penjaga gudang, lalu mengapa
pakaian kamu seperti waria seperti ini?” kembali bapak tua tersebut bertanya
dengan tegas, tidak dapat berkata apa-apa lagi Indra dan hanya bisa tertunduk
lesu dan malu, kecewa, takut semua bercapur dalam dada
“oh jadi ini yang
kamu lakukan? Kamu menjadi banci? Aku tidak sudi memiliki menantu sepertimu!
Mulai sekarang jangan kamu dekati lagi anak saya.” Ucap pak Ramhat
“tunggu pak ini
tida seperti yang bapak kira” Indra coba menjelaskan
“sudahlah, aku
tidak ingin melihat mukamu lagi” terlihat wajak pak ramat yang begitu marah dan
kecewa
"pak tunggu
dulu, dengarkan penjelasan Indra” namun pak Ramhat sudan berlalu naik angkot
Indra menyesalkan
dirinya yang tidak berdaya dan tidak dapat menjelaskan kejadia yang sebenarnya
kepada calon mertuanya itu, namun apa yang harus dilakukan sekarang nasi sudah
menjadi bubur, tidak mungkin lagi dapat diperbaiki. Belum sampai pukul 12 malam
Indra sudah pulang kerumah, betapa terguncangnya tubuh Indra setela melihat
sosok yang duduk didepan rumahnya dia adalah pak Ramhat, calon mertuanya
“astaga, aku kira pak Ramhat langsung pulang kerumah ternyata dia malah
kerumahku, mati aku apa yang harus kulakukan” dalam hati Indra
Sambil merunduk
ingin memberikan salam pada ayahnya “assalamualakum ayah”
“jangan cium
tanganku” rupanya ayah Indra sudah mengetahui semuanya dari pak Ramhat. Indra
hanya bisa terdiam dan berpatung diri di depan orang tuanya
Pura-pura tidak
paham dengan keadaan Indra bertanya “ada apa ayah? Mengapa Indra tidak boleh
mencium tangan ayah”
“sudahlah jangan
berlagak bodoh di depak muka ayah, ternyata ini yang kamu laukan selama ini.
Kau tidak perlu berkomentar pak Ramhat sudah menceritakan semuanya, ayah kecewa
kepadamu kau bilang kau bekerja di pabrik ternyata kau menjadi banci jalanan.
Ayah tidak sudi memiliki anak sepertimu, mulaisekarang kau pergi dan jangan
kembali lagi dan jangan panggil aku ayah, aku tidak mengakui kau sebagai anakku
lagi”
Mendengan ucapan
ayahnya itu Indra seperti dibuang kedalam jurang yang penuh dengan duri dan
semak tajam, sungguh sakit rasanya ayah yang selama ini dia sayangi dan hidup
bersamanya sejak ia kecil, menggendongnya saat dia menangis, memberinya mainan
saat ia sendirian dan sekarang mengusirnya dari rumah. “ayah kemana Indra akan
pergi? Maafkan Indra yah, Indra tidak bermaksud mengecewakan ayah. Jangan usir Indra
ayah” Indra memohon pada ayahnya
Terdengar suara
isak tangis namun perlahan terdengar sayup, lalu Indra teringat pada ibunya. Indra
langsung masuk rumah dan menemui ibunya, Indra memeluk kaki ibunya sambil
memohon maaf, sambil menangis “ibu Indra minta maaf bu Indra tidak akan
mengulangi perbuatan ini bu”
“ iya nak, ibu
mengerti perasaanmu ibu juga tahu kau tak bermaksud melakukan ini koper ke depan
Indra “pergi kamu, jangan kembali lagi kerumah ini jika kau masih menjadi
banci!” ayah Indra sangat kecewa
Mendengar hal itu Indra
menyabut koper tersebut yang berisi semua pakaiannya, dan membawanya pergi
“jangan pergi nak, jangan tinggalkan ibu” ibu Indra menangis
“sudah jangan
tangisi banci itu, sia-sia selama ini aku ajari dia tentang kehidupan, menjadi
laki-laki, menggendongnya, memberikan mainan namu sekarang dian menjadi banci
jalanan biarkan dia pergi” ayah Indra sebenarnya juga tidak tega mengusir
anaknya namu apa boleh buat hati yang sudah kecewa tidak bisa diobati lagi
*****
Sementara dirumah Ratih
“tidak akutidak percaya itu ayah, Indra tidak meungkin berbuat seperti itu, dia
bekerja sebagai penjaga pabrik bukan
menjadi banci jalanan ayah pasti bohong, Ratih tahu selama ini ayah
memang tidak pernah merestui hubungan kami karena Indra belum bekerja dan
sekarang saat dia sudah bekerja ayah malah membuat berita bohong ini untuk
memisahkan kamikan?” rati masih membela Indra
“dengar! Ayah
sendiri yang memergokinya sedang mengamen dijalanan dan ayah langsung menemui
ayahnya dan melaporkan kelakuan nista anaknya itu dan sekarang dia diusir oleh
ayahnya, sekarang kamu tidak akan bertemu dengannya lagi” ayah Ratih membentak
“apa? Tega sekali
ayah mengapa ayah kejam? Apa Indra punya salah terhadap ayah?” Ratih membalas
“iya! Dia seorang
pencundang, tidak berpendidikan dan miskin” jawab ayah Ratih
“ohh ternyata ayah
selama ini hedonis, aku baru ayahku selama adalah seorang mata duitan” Ratih
langsung masuk kamar dan mengunci pintu
*****
“kemana aku harus
pergi” Indra sambil mengerutkan kengingnya, “ahh sebaiknya sekarang aku
beristirahat di depan toko ini, besok pagi aku harus mencari tempat tinggal...
Belum terlhiat
sinar mata hari “ hoy hoy hoy bangun kamu, siapa yang suruh kamu tidur di sini”
ternyata satpam penjaga toko
“maaf pak saya
sedang istirahat” jawab Indra
“kalau mau
istirahat itu dirumah, ini toko tempat jualan awas ya sekali lagi kamu tidur
disini” kata satpam tersebut
Seorang wanita
turun dari mobil sedan yang berhenti didepan toko tersebut “ ada apa pak Joni?”
tanya wanita itu
“ini bu,
gelandangan biasalah tidur didepan toko” satpam itu menjawab
“loh jangan begitu
lah, toh diakan juga manusia” jawabya lagi
“Wah baik sekali
wanita ini” fikir Indra sambil memandangi wajahnya yang cantik
“hey, sedang apa
kamu? mengapa memandangi seperti itu? Sedang memikirkan hal kotor ya?” tanya
satpam itu
Indra hanya bisa
mengelengkan kepala seperti ketakutan “hey kamu Indrakan?”wanita itu bertanya
“iya bagaimana kamu
bisa tahu?” Indra agak kebigungan
“aku Dina, apa kamu
masih ingat? Akuken teman sekelamu dulu waktu di SMP, kita seing duduk berdua
waktu itu masa kamu lupa?” wanita itu berusaha mengingatkan
“aku tidak ingat” Indra
mnejawab
“ eh masa lupa sih? Dina yang dulu sering
mencoret seragammu itu loh tapi waktu itu aku pndak sekolah ke jakarta sebelum
menuntaskan sekolahku di bandung” kembali ia menerangkan
“oh iya aku ingat,
kamu Dina yang rambutnya sering dikuncir seperti ekor kuda itu ya?” Indra mulai
ingat
“ah kamu itu tidak
pernah berubah ya, dari dulu sering sekali mengejekku” mereka bercakap sambil
mengingat memori masa lalu
“oh yah, apa yang
kamu lakukan disini?” Dina bertanya
“iya aku baru saja
diusir ayahku....” indra menceritakan keluh kesahnya, karena memang pada saat
SMP merekan juga sering bercerita tentang kehidupan masing masing
“ohh aku paham
masalahmu, bagaimana kalau kamu bekerja dengan aku?” Dina menawarkan
“dimana” tanya
indra
“di sini, di toko
ini. Toko ini salah satu toko miliki keluargaku dan masih ada lima toko lagi di
tempat yang berbeda” terang Dina
“wah hebat sekali,
tapi aku tidak memiliki keahlian dan sekolahkupun hanya sebatas SMP memangnya
kau bisa dipakai bekerja?” indra merendah
“sudah, aku tahu
kau itu pintar matematika, SMP dulu aku sering mencontek PR mu kau jadi kasir
saja ya” usul Dina sambil tersenyum
Indra membalas
senyum, itu berarti indra sudah bekerja mulai sekarang. Sejak saat itu indra
bekerja dengan giat dan tekun berkat kegigihannya itu akhirnya sekarang dia
menjadi sekretaris Dina. Tidak disangka
orang yang hanya berpendidikan seadanya namun memiliki kemampuan luar biasa,
itu semua karena pengalaman karena dia adalan guru yang sangat bijak
Suatu hari dikantor
“ Ratih, apa kamu masi mengingatku? Apa kamu masih menengguku?” dalam hati
indra
“indra besok temani
aku ya, aku menyegarkan fikiranku kita akan ke pantai” ajak Dina
“maaf bu sepertinya
saya tidak bisa” indra menolak tawaran .gadis cantik itu
“mengapa tiba-tiba
kau menolak? Tidak seperti biasanya?” Dina agak heran
“iya bu sekali lahi
maaf karena besok libur jadi saya bermaksud mengunjungi orang tua dan pacar
saya” jawab indra
“pacar? Kamu sudah
punya pacar? Siapa?” terlihat agat kecewa Dina
“iya bu, dia Ratih”
jawab indra
“oh Ratih yang
sering pulang bersamamu saat SMP itu?” kembali Dina bertanya
“iya bu” indra
menjawab singkat
“baiklah kita tunda
saja perginya” ujar Dina
Keesokan harinya
indra pergi mengunjungi ayah dan ibunya, dengan menggunakan Honda Jazz merah
dan lengkap dengan Jas dan dasi pelangi di lehernya “ayah, ibu!” seru indra
“iya siapa?” sambil
berteriak ibu indra menjawab
“ini indra bu” seru
indra
“hah indra” dalam
hati ibu indra. Langsung saja ibu indra berlari kedepan dan memandangi sosok
yang sangat berbeda “indra, indra anak ibu? Ya Allah anakku. Yah, ayah cepat
kemari lihat siapa yang datang” ibu indra memanggil suaminya
“Iya bu sabar”
sambil membawa cangkul dan baju kusamnya ayah indra muncul dari belakang rumah
“ada apa bu, dan siapa ini?”
“ini indra yah,
indra anakmu” sambil memeluk ayahnya dan terlihat mata indra berkaca-kaca
“ya Allah indra,
ini betul indra? Ayah rindu kepadamu nak” ucap ayah indra
“iya ayah, indra
juga.... oh ya ayah apa kabar Ratih?” tanya indra
“ada baiknya kau
kunjungi saja kerumahnya” jawab ayah indra
“baik yah indra
langsung kerumahnya, nanti akan indra ajak kemari indra ingin melamarnya”
sambil berlari, berteriak dan
mengendarai Honda Jazznya
“Assalamualaikum, Ratih!
“Seru indra
“waalaikum salam,
siapa ya?” jawab Ratih
“ini mas indra
sayang” sambil tersenyum kepada Ratih
“mas indra? Ini mas
indra?” rati langsung memeluk indra dengan kuat seakan tidak akan melepaskannya
“ mas kemana saja, Ratih selalu menunggu mas Ratih rindu mas, Ratih tahu mas
pasti akan pulang dan menepati janji mas” ucap Ratih sedikit mengeluarkan air
mata bahagia
“Ratih siapa itu?”
tanya ayah Ratih
“ini mas indra yah”
jawab Ratih
“hah indra banci
itu? Mau apa lagi dia datang kemari?” ucap ayah
Ratih. Namu setelah melihat penampila indra yang berbeda seakan tidak
percaya ayah Ratih menerima kehadiran indra
Betapa bahagia
kedua insan ini yang keian lama menunggu akahirnya dapat menikah walau harus
melalui rintangan yang begitu berat, terlebih lagi Ratih yang setia menunggu
penantian itu tidak sia-sia.
Walau sedikit
kecewa namun Dina dapat menerima kenyataan saat dia sudah didahului oleh Ratih.
“mas punya uang
buat bulan madu tidak??” Ratih tersenyum
“sepertinya aku
haru mulai dari awal” kata indra sambil tersenyum
“aku terima
nikahnya Ratih sulastri binti Rahmat dengan mas kawin tersebut tunai”
Sabtu, 29 Oktober 2011
Idonesia saat ini
Memalukan… Indonesia Negara Terkorup Asia Pasifik
Maret 9, 2010
oleh nusantaraku
Setelah cuti hampir 1 bulan, baru pertama
kali dalam bulan Maret 2010 saya memulai artikel baru mengenai
perkembangan korupsi Indonesia, khususnya periode 2008-2010. Dengan
menggunakan data “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) –
Hongkong dan Transfarency Internasional – Jerman, mari kita lihat
perkembangan tindakan koruptif di negeri tercinta ini.
Ditengah gegap gempita pertumbuhan
ekonomi yang positif pada tahun 2009 silam, ternyata Indonesia
merupakan negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi
tujuan investasi para pelaku bisnis. Itulah hasil survei pelaku bisnis
yang dirilis Senin, 8 Maret 2010 oleh perusahaan konsultan “Political
& Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong [1].
Penilaian didasarkan atas pandangan ekskutif bisnis yang menjalankan
usaha di 16 negara terpilih. Total responden adalah 2,174 dari berbagai
kalangan eksekutif kelas menengah dan atas di Asia, Australia, dan
Amerika Serikat.
“Saya akan berada paling depan dalam memberantas korupsi” - Pres. SBY
Berikut ini adalah daftar 16 Negara Terkorup di Asia Pasifik* oleh PERC 2010
- Indonesia (terkorup)
- Kamboja (korup)
- Vietnam (korup)
- Filipina (korup)
- Thailand
- India
- China
- Taiwan
- Korea
- Macau
- Malaysia
- Jepang
- Amerika Serikat (bersih)
- Hong Kong (bersih)
- Australia (bersih)
- Singapura (terbersih)
2008
Hasil survei PERC ini menyebutkan Indonesia mencetak nilai 9,07
dari angka 10 sebagai negara paling korup 2010. Ini berarti selama 2
tahun terakhir pemerintah SBY, Indonesia mendapat citra semakin
memprihatinkan dalam hal tindakan hal korupsi. Pada tahun 2008,
Indonesia menduduki posisi ke-3 dengan nilai tingkat korupsi 7.98
setelah Filipina (tingkat korupsi 9.0) dan Thailand (tingkat korupsi
8.0). [2]
2009
Angka tingkat korupsi Indonesia semakin
meningkat ditahun 2009 dibanding tahun 2008. Pada tahun 2009, Indonesia
‘berhasil’ menyabet prestasi sebagai negara terkorup dari 16 negara
surveilances dari PERC 2009. Indonesia mendapat nilai korupsi 8.32
disusul Thailand (7.63), Kamboja (7,25), India (7,21) and Vietnam
(7,11), Filipina (7,0). Sementara Singapura (1,07) , Hongkong (1,89),
dan Australia (2,4) menempati tiga besar negara terbersih, meskipun ada
dugaan kecurangan sektor privat. Sementara Amerika Serikat menempati
urutan keempat dengan skor 2,89. [3]
Jadi, dari data PERC 2010, maka dalam
kurun 2008-2010, peringkat korupsi Indonesia meningkat dari 7.98
(2008.), 8.32 (2009) dan naik menjadi 9.07 (2010) dibanding dengan 16
negara Asia Pasifik lainnya. “Prestasi” dashyat ini bukanlah hal yang
mengejutkan. Apabila Pak SBY selama ini suka mengklaim keberhasilan
tindakan pemberantasan korupsi KPK seolah-olah kinerja pemerintahannya,
maka kasus kriminalisasi pimpinan KPK (Bibit dan Chandra) setidaknya
telah menurunkan kepercayaan pengusaha atas hasrat pemerintah bersama
jajarannya dalam memberantas korupsi.
Ini juga memberi bukti bahwa tidaklah
elok pemerintah SBY mengklaim keberhasilan KPK sebagai keberhasilan
pemerintah SBY. Karena sumber terbesar permasalahan korupsi masih berada
dalam kekuasaan Presiden SBY yakni lembaga Kepolisian dan Kejaksaan.
Belum lagi tindakan koruptif yang dilakukan oleh sejumlah pejabat
pemerintah di berbagai instansi baik di pusat maupun daerah serta
korupsi berjam’ah anggota legislatif dan kehakiman.
Sedikit Berubah, Tapi Kalah Jauh Secara Regional
Bila dalam berbagai kesempatan Presiden
SBY dan tim periangnya seperti Ruhut Sitompul cs selalu ‘mencuri’ hati
rakyat dengan kata-kata puji-pujian sosok SBY dalam memberantas korupsi,
maka fakta sesungguhnya tidaklah secerah dan sebening serta semanis
kata-kata yang sering mereka lontarkan. Selain KPK, selama ini
pemberantasan korupsi berjalan ditempat, bahkan semakin mengganas di
daerah-daerah. Hanya beberapa instansi pemerintah yang menerapkan
kebijakan non-koruptif yang tegas, sementara mayoritas instansi lain
masih mengasah ‘kemahiran’ dalam merekayasa anggaran.
Tabel Peningkatan Indeks Persepsi Korupsi (IPK/CPI) Indonesia 2001-2009 (selengkapnya)| Tahun Survei | Nilai IPK Indonesia | Sumber TI |
| 2001 | 1.9 | CPI 2001 |
| 2002 | 1.9 | CPI 2002 |
| 2003 | 1.9 | CPI 2003 |
| 2004 | 2.0 | CPI 2004 |
| 2005 | 2.2 | CPI 2005 |
| 2006 | 2.4 | CPI 2006 |
| 2007 | 2.3 | CPI 2007 |
| 2008 | 2.6 | CPI 2008 |
| 2009 | 2.8 | CPI 2009 |
Meskipun data yang disampaikan
Transfarency Internasional menunjukkan adanya sedikit peningkatan
persepsi pemberantasan korupsi di Indonesia, namun sesungguhnya hal ini
lebih ditriger oleh lembaga KPK. Hal dapat kita lihat bahwa
lembaga-lembaga terkorup justru berasal dari lembaga Kepolisian,
Kejaksaan dan DPR (5 Lembaga Publik Terkorup 2008).
Merujuk hal ini, maka dapat dijelasin
bahwa meskipun terjadi peningkatan persepsi pemberantasan korupsi di
Indonesia, namun secara regional pemberantasan korupsi Indonesia
berjalan mandeg dibanding negara-negara tetangga. Salah satu
permasalahan utama adalah reformasi birokrasi yang berjalan mandeg.
Reformasi birokrasi di pemerintahan dan lembaga penegak hukum sekilas
hanya lips service semata. Tidak ada perubahan mendasar, kecuali
perubahan dikulitnya.
“Hampir Semua Pejabat Itu Korupsi ” – Mahfud MD
Derap langkah penegakkan hukum di
Indonesia seakan terhenti. Hal itu salah satunya dikarenakan masih
banyaknya prilaku koruptif yang ditonjolkan pejabat Indonesia. Ketua
Mahkamah Konstitusi M Mahfud MD dalam diskusi ‘Akar-akar Mafia Peradilan
di Indonesia (18 Feb 2010) mengatakan bahwa , “Hampir semua pejabat itu korupsi,”.
Hal ini dikarenakan birokrasi penegakkan
hukum di Indonesia yang masih buruk. Sehingga memberi peluang para
pejabat untuk melakukan korupsi. Dan ironisnya, belum ada satu pun
Presiden yang mampu memperbaikinya, termasuk Pres. SBY. Inilah kenapa
korupsi banyak terjadi bahkan menjamur di berbagai level. [4]
Catatan akhir :
Dalam berbagai event, kita sangat
mengharapkan dapat meraih peringkat nomor satu. Namun prestasi yang satu
ini sangat memalukan, karena Indonesia berdiri nomor 1 sebagai negara
terkorup dari 16 negara dengan ekonomi sentral kawasan. Sudah saatnya,
segenap bangsa mulai bercermin diri. Mulai memperbaiki diri, memperbaiki
birokrasi, memperbaiki mental. Karena sesungguhnya, bukanlah tindakan
korupsi itu berbahaya, namun yang lebih berbahaya adalah mental korup
itu sendiri. Korup mulai dari materi, waktu, hingga integritas.
Sudah saatnya kita kembali mempelajari
pemikiran yang luar biasa para tokoh bangsa yang pernah ada di
Indonesia. Salah satunya adalah Wapres I Indonesia sekaligus Proklamator
bangsa Indonesia Bung Hatta. Dia mungkin satu-satunya Wapres yang tidak
pernah korup secuilpun baik materi maupun mental. Selama hidupnya Bung
Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa
Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Dan
yang membuat saya begitu respect sama Bung Hatta adalah kisahnya sebagai
seorang Wakil Presiden RI yang juga bapak proklamator harus menabung
untuk membeli sepatu “bally”, tapi…. hingga akhirnya hayatnya ia harus
memendam cita-citanya!
Langganan:
Komentar (Atom)