SEBUAH CERPEN

AKAN AKU
LAMAR
KAU APAPUN
RESIKONYA
|
PENDIDIKAN BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
AKAN AKU LAMAR KAMU
APAPUN RESIKONYA
Sabtu itu di bawah
pohon beringin di pinggir waduk terlihat
sepasang kekasih sedang memadu kasih
“mas kapan sih
katanya mas mau lamar aku? Tapi sampai sekarang belum kesampaian juga” ucap Ratih
mengeluh
“iya Ratih, mas
pasti akan melamar kamu tetapi kamu harus sabar sebab sekarang mas belum punya
uang untuk melamar kamu” bujuk Indra
“ah mas dari dulu
setiap Ratih tanya kapan mau melamar Ratih pasti jawabannya belum punya uang,
lalu kapan punya uangnya?” Ratih menggerutuh sambl memalingkan mukanya ke arah
waduk
“mau bagaimana
lagi, kamu ‘kan tahu kalau sampai sekarang mas masih belum punya pekerjaan
tetap hanya pekerjaan serabutan apakah sudah cukup untuk menghidupi kamu?
Sedangkan saat ini saja mas masih menumpang dengan orang tua, mas pasti melamar
kamu sayang mas hanya minta kamu sabar sebertar saja, beri mas waktu untuk
mencari uang untuk melamar kamu”Indra kembali membujuk Ratih dengan rayuannya
“baik mas Ratih
akan sabar, Ratih hanya berharap kata-kata mas itu bukan hanya di bibir saja”
harap Ratih kepada Indra. Terlihat berkaca-kaca mata Ratih, kemudian tanpa ada
instruksi Ratih langsung memeluk erat Indra. Saat itu terasa berdegup kencang
dada Indra sebeb Ratih yang ia pacari selama lima tahun itu belum dapat ia
bahagiakan. “iya sayang, mas bersumpah akan menepati janji mas untuk melamar
kamu bagaimanapun caranya” ucap Indra dengan suara yang lembut namun begitu
tegas. Sedikit terasa tenang hati Ratih rupanya lelaki ang ia cintai ini tidak
pernah bergurau untuk melamarnya.
Saat matahari mulai
menapaki tempat peristirahatannya kedua sejoli itu terlihat meninggalkan waduk
tersebut
“mas pulang ya”
ucap Indra dengan senyum simpulnya yang begitu manis
“iya mas, hati-hati
di jalan ya” balas Ratih sambil melontarkan senyuman mautnya
Seperti biasa Indra
langsung ngebut pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah tanpa memberi salam
kepada ibunya yang sedang beres-beres Indra langsung masuk kedalam kamar dan
mengurung diri. “Indra! Ada apa? Kenapa kamu seperti sedang dikejar setan
begitu?” seru ibunya sambil mengetuk pintu kamar Indra yang terlhiat begitu
memprihatinkan
“tidak ada bu, Indra
hanya kelelahan sekarang mau tidur dulu” jawab Indra dari dalam kamarnya
“oh, ibu kira ada
apa? Ya sudah daripada kamu tidur lebih baik kamu bantu ayah kamu di kebun
sana” perintah ibu Indra dengan suara lembutnya
“Indra masih lelah
bu besok saja ya bantu ayahnya!” Indra kembali menjawab
“ah, kau ini setiap kali ibu perintah pasti ada saja
jawabannya, mau sampai kapan kamu begini?” nasehat ibu Indra. Lalu Indra
langsung keluar sambil membanting pintu dan berkata “ah ibu ini, Indra ‘kan
sudah bilang Indra sedang lelah memangnya ibu tidak mngerti bahasa manusia ya?”
Sontak ibu Indra
tertegun melihat kelakuan anaknya yang begitu brutal, dia heran apa yang
sebenarnya sedang terjadi terhadap anaknya karena seumur hidupnya bersama
keluarga ini baru sekali ini Indra berani membentaknya. “ada apa nak, kenapa
kamu bebuat seperti ini? Apa kamu punya masalah?” tanya ibu Indra dengan nada lembut dan hampir
meneteskan air mata. Melihat ibunya sedih Indra tersadar bahwa dia telah
menyakiti perasaan ibunya, amarah Indrapun layu dan seraya berkata “maafkan Indra
bu, Indra sudah membentak ibu” Indra berlutut dan memengang kaki ibunya sambil
meneteskan air mata
“tidak apa-apa nak,
coba sekarang kamu ceritakan apa yang sedang tejadi” bujuk ibu Indra
Dari balik pintu
depan terdengar suara teriakan “Indra!! Apa yang sedang kamu lakukan” ternyata
ayah Indra mendengar kejadian ini sejak tadi dari luar rumah, tanpa fikir
panjang ayah Indra langsung masuk kedalam rumah da menapar Indra plaaakk.. pipi
Indra langsung memerah terkena tamparan ayahnya. “sudah yah sudah, Indra tidak
mencelakai ibu Indra sedang ada masalah ayah jangan kasar begitu dengan anak
sendiri” teriak ibu Indra sambil memegang tangan ayah Indra
“maaf ayah, Indra
tidak bermaksud menyakiti ibu” ucap Indra takut
“lalu apa yang kamu
lakukan sehingga ibumu menangis seperti ini?” bentak ayah Indra
“sudah la yah Indra
ini kan sudah besar dia pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah” ibu Indra
menyabarkan suaminya
“ayah, Indra
sekarang sudah besar yah, bukan anak kecil lagi sekarang Indra ingin hidup
seperti kawan-kawan Indra yang lain yah” ucap Indra
“maksudmu?” tanya
ayah Indra
“ayah masih ingat
dengan Reno ‘kan? Sekang dia sudah punya anak dua sedang aku apa? Aku masih
bujang yah” ucap Indra sedikit mengeluh
“ha ha ha ha ha!
Maksudmu kamu ingin menikah? Wah rupanya anak bujang kita ini memang sudah besar
bu, pantas saja tingkahnya seperti orang gila selama tiga bulan ini ternyata
hatinya sedang galau rupanya, ha ha ha” ayah Indra tertawa terbahak-bahak
“kalau memang itu
masalahmu kenapa kamu tidak bicarakan baik-baik kepada ayah dan ibu nak?” tanya
ibu Indra sambil tersenyum bahagia
“Indra malu bu,
sebab sampai sekarang ini Indra belum mendapatkan pekerjaan, jangankan untuk
melamar untuk makan dan tidur saja Indra masih menumpang dengan ayah dan ibu”
jawab Indra malu
“yah sudah, kalau
kamu memang ingin segera menikah ayah akan cari pinjaman dulu” ucap ayah indra
“tidak usah yah, Indra
tidak mau lagi membebankan ayah dan ibu biar saja Indra yang cari uangnya
sendiri. Indra juga takut jika Indra terlalu bergantung kepada ayah dan ibu
nanti tidak bisa menghidupi keluarga Indra,
karena sudah terbiasa meminta kepada ayah dan ibu” jawab Indra tegas
“baik kalau begitu
buktikan jika kamu memang ingin menjadi orang yang bertanggung jawab, ayah mau
lihat bagaimana sifat seorang laki-laki menurut kamu” tantang ayah Indra
“baik ayah Indra
akan ingat kata-kata ayah” jawab Indra
Pagi-pagi sekali di
hari minggu itu suara sibuk sudah terdengar
“tumben nak kamu
bangun pagi sekali hari minggu?” tanya ibu Indra yang sedang memasak di dapur
“iya bu Indra mau
cari pekerjaan” Indra menjawab sambil tersenyum
“wah rupanya
sekarang kamu sudah sadar ya?” ibu Indra sambil tersenyum
“loh memangnya
selama ini Indra tidak sadar ya bu?” tanya Indra
“sudahlah, cepat
bergegas cari pekerjaan, katanya mau melamar?” ibu Indra masih tersenyum
“baik bu Indra
berangkat ya, assalamualaikum” Indra bergegas pergi setelah mencium tangan ibunya
“wa'alaikum salam,
hati-hati di jalan nak!” seru ibu Indra sambil menyemangatinya
Memang mencari
pekerjaan tidaklah mudah seperti yang dibayangkan, apalagi di kota besar
seperti Bandung ini dan ditambah lagi pendidikan Indra yang hanya sebatas SLTP
sepertinya bak mencari jarum di tumpukan jerami. Berkilo-kilo meter jalan yang
di susuri Indra puluhan kantor ia masuki namun belum satupun yang mau
menerimanya untuk bekerja, akhirnya malam sudah tiba dan Indra pulang dengan
tangan hampa namun di tengah perjalanan pulang angkot yang Indra tumpangi
terjebak macet sehingga rasa kecewa Indra semakin membenak, perut yang lapar
karena belum makan dari pagi dan sekarang terjebak macet. Indra melirik-lirik
ke arah jendela berniat mencari tempat yang akan ia jadikan sasaran melamar
pekerjaan besok, namun tanpa disangka-sangka seorang waria datang dari arah
samping dan sontak mangagetkan Indra “aku tak mau kalau aku dimadu, pulangkan
saja kerumah orang tuaku serrr serrr” waria itu bernyanyi di depan Indra dengan
suaranya yang cempreng seperti kaleng sardines “kang hayu atuh kang sumbangan
buat waria kelaparan” minta waria itu
“nih” Indra
memberikan uang 2000 rupiah kepada waria itu “sana pergi” tegas Indra sambil
agak ketakutan
“ih si akang mah
baru nyumbang dua ribu perak saja sudah kasar, capeee dehhh” waria itu
menghilang entah kemana
“gila yang benar
saja, hari ini aku benar-benar sial” dalam fikiran Indra
Jam sudah
menunjukkan pukul sembilan malam dan Indra baru tiba di rumah
“bagaimana Indra,
apa kamu sudah dapat pekerjaan?” tanya ayah Indra yang sedang santai di beranda
rumahnya sambil minum kopi susu hangat
“belum yah” jawab Indra
lesu
“memang begitu
hidup di dunia ini kita orang yang tidak punya kekuasaan lama-kelamaan akan
tersingkir dari peradaban orang-orang berkuasa, tetapi kamu jangan menyerah
karena hari esok masih ada” ayah Indra menyemangati Indra
Indra langsung
masuk kekamarnya dan beristirahat
“Indra ayo makan
dulu nak, ibu sudah memasakkan jengkol kesukaan kamu” teriak ibu Indra dari dapur
“iya bu, Indra
instirahat sebentar” Indra langsung tidur karena kelelahan
Karena sudah lama
menunggu Indra untuk datang makan, ibu Indra menghampiri kamar anaknya dan
terlihat lah Indra yang sedang tertidur pulas dengan baju kemeja yang masih menempel
di badannya “sungguh kasihan kamu nak” ucap ibu Indra lirih. Lalu ayah Indra
menghampiri ibu Indra “biarkan saja bu, Indra ‘kan anak laki-laki yang anak
tunggal sudah sepatutnya dia belajar menjadi dewasa jangan selalu dimanjakan,
kapan lagi dia mau belajar menjadi seorang pemimpin”
“iya yah” jawab ibu
Indra
“ya sudah sekarang
sudah larut malam, ayo bu kita istirahat” ajak ayah Indra
Sudah tiga minggu
berturut-turut Indra mencari pekerjaan namun belum juga membuahkan hasil, rasa
frustasi mulai menerpa pemuda ini, Indra merenenung dalam fikirannya ia
bertanya “apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan pekerjaan” lalu terlintas
fikiran gila dalam otaknya, Indra teringat dengan waria yang menggodanya waktu
itu, Indra mencari pakaian ibunya di dalam lemari kamar ibunya, beruntung saat
itu ibu Indra sedang ke warung membeli sayuran, Indra mulai berdandan layaknya
seorang wanita. Indra terkagum setelah melihat dirinya begitu persis seorang
wanita dengan paras tinggi dan wajah yang oriental.
“assalamualaikum”
salam ibu Indra baru pulang dari warung
Indra langsung
bergegas merapihkan dirinya, ia pasti malu jika ketahuan dengan ibunya saat ia
sedang berpakaian seperti seorang wanita.
Beruntung Indra tidak ketahuan dan keadaan menjadi biasa saja.
Saat malam tiba Indra
pamit kepada ayah dan ibunya untuk pergi ke rumah Dadang teman sekolahnya dulu
di kampung sebelah, dan tentu saja ayah dan ibunya mengizinkan karena mereka
tidak sadar bahwa di dalam tas Indra dia membawa pakai ibunya.
Tentu bukan ke
rumah Dadang Indra melaju tetapi ketempat dimana ia berjumpa dengan waria yang
menggodanya waktu itu. Setibanya Indra di tempat itu Indra langsung menuju WC
umum dan mengganti pakaiannya. “loh waria juga ya neng” goda penjaga WC umum
“sial bapak ini,
jika tidak terpaksa aku juga tidak mau menjadi waria” dalam benak Indra. 8Indra
langsung pergi ke pinggir jala setelah membayar WC umum
Dengan bermodalkan
botol minuman bekas yang berisi batu kerikil Indra mulai beraksi menjajakan
suaranya di pinggir jalanan yang macet, ternyata maet menjadi salah satu
keuntungan tersendiri bagi waria di sekitar jalan ini. Malam semakin melarut
dan hampr menjelang pagi, sementara dirumah, ibu Indra tidak bisa tidur dengan
nyennyak karena menunggu Indra pulang
“sudahlah bu Indra itu anak laki-laki, dia bisa jaga dirinya” ucap ayah Indra
yang ikut terbangun “ibu instirahat saja nanti ibu sakit jika kurang istirahat”
Pukul lima pagi Indra
sudah berada dikamarnya, entah kapan ia pulang karena pintu rumah tidak terkunci
sehingga Indra pulang tanpa diketahui oleh ayah atau ibunya
“Indra! Kamu sudah
pulang nak?” seru ibu Indra sambil mengetuk pintu
“iya bu” jawab Indra.
Beruntung Indra sudah membersihkan sisa-sisa dandanannya tadi malam hingga ibu Indra
tidak curiga
“kemana kamu
semalam nak? Ibu sampai tidak bisa tidur mengunggu kamu pulang” ibu Indra agak
khawatir
“jagan cemas bu, Indra
tadi malam memang tidak pulang karena bekerja” jawab Indra
“kerja? Kerja apa
nak kok malam-malam?” tanya ibu Indra lagi
“iya bu, Indra bekerja
menjaga gudang di perusahaan makanan ringan, Dadang yang mengajak Indra bu” Indra
berbohong pada ibunya
“alhamdulillah,
akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan juga” ibu Indra bahagia sekali mendengar
ucapa anaknya
“iya bu, Indra mau
istirahat dulu soalnya tadi malam tidak sempat tidur bu” ucap Indra yang masih
memejamkan matanya
“Iya istirhat saja,
sarapan kamu sudah ibu siapkan di meja makan” ibu Indra meninggalkan kamar Indra
Tiga bulan sudah Indra
melalui kehidupan ditengah lampu-lampu
jalan dan uang yang ia dapatkan sudah lumayan, sepertinya sudah bisa membeli
cincin kawin, namun malam itu ketika Indra sedang asyik menjajakan suaranya Ratih
lewat di depan mukanya, tidak athu lagi apa yang harus Indra perbuat, dan
sialnya Ratih melirik dan terus memperhatikan Indra. Ratih sempat curiga namun
ia menepis jauh-jauh prasangka buruk tersebut karen Indra bilang bahwa ia
bekerja di gudang pabrik makanan, walaupun masih terdapt rasa gundah di hati Ratih.
Hari minggu Indra
mengajak Ratih ke pinggir waduk dimana tempat mereka biasa bercengkrama
“mas kemarin malam Ratih
nelihat seorang waria yang wajahnya mirip sekali dengan mas” Ratih mengadu.
Langsung bedegup kencang dada Indra mendengar ucapan Ratih
“ah apa maksud
kamu, jadi kamu menyamakan mas dengan waria begitu?” Indra mengelak
“hahaha bukan mas,
buka itu maksud Ratih tetapi lucu saja jika Ratih teringat dengan kejadian itu,
Ratih membayangkan bagaimana jika mas yang jadi waria itu hihihi” Ratih tertawa
terbahak
“baik kalau begitu
nanti mas akan benar-benar menjadi waria, kamu mau?” ucap Indra
“jangan dong mas, Ratih
tidak sudi memiliki suami yang bekerja sebagai waria, apa kata orang nanti?”
jawab Ratih
Indra mulai merasa
takut, tetapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, Indra sudah merasa
nyaman menjadi waria pengamen. Dan uang yang ia dapatkan juga lumayan. “iya
sayang mana mungkin ma seperti itu” bujuk Indra sambil tersenyum, entah itu
malu atau takut.
Enam bulan sudah
berlalu sejak pertama kali Indra menjadi seorang waria, jika di hitung-hitung
tiga bulan lagi sepertinya sudah bisa melamar Ratih, Indra seakin semangat
mengamen dan terbayang-bayang di benaknya saat ia meminang Ratih dengan hasil
jerih payahnya sendiri. “pak beli rokoknya satu bungkus, berapa pak” seorang
pria berumur membeli rokok di warung tempat Indra biasa istirahat setelah
mengamen. “wah rupanya hari ini lumayan juga” ucap Indra menghitung hasil
mengamennya. Ting ting ting ting, uang recehan Indra terjatuh, dan ia
memungutnya.
“Indra? Kamu Indrakan”
tanya bapak tua tadi yang teryata pak Ramhat ayah Ratih. Langung saja tidak
karuan perasaan Indra melihat wajah yang dihadapinya adalah calon mertuanya
sedangkan ia sedang memakai pakaian warianya “iya kamu Indra, apa yang sedang
kamu lakukan? Bukankan kamu bekerja sebagai penjaga gudang, lalu mengapa
pakaian kamu seperti waria seperti ini?” kembali bapak tua tersebut bertanya
dengan tegas, tidak dapat berkata apa-apa lagi Indra dan hanya bisa tertunduk
lesu dan malu, kecewa, takut semua bercapur dalam dada
“oh jadi ini yang
kamu lakukan? Kamu menjadi banci? Aku tidak sudi memiliki menantu sepertimu!
Mulai sekarang jangan kamu dekati lagi anak saya.” Ucap pak Ramhat
“tunggu pak ini
tida seperti yang bapak kira” Indra coba menjelaskan
“sudahlah, aku
tidak ingin melihat mukamu lagi” terlihat wajak pak ramat yang begitu marah dan
kecewa
"pak tunggu
dulu, dengarkan penjelasan Indra” namun pak Ramhat sudan berlalu naik angkot
Indra menyesalkan
dirinya yang tidak berdaya dan tidak dapat menjelaskan kejadia yang sebenarnya
kepada calon mertuanya itu, namun apa yang harus dilakukan sekarang nasi sudah
menjadi bubur, tidak mungkin lagi dapat diperbaiki. Belum sampai pukul 12 malam
Indra sudah pulang kerumah, betapa terguncangnya tubuh Indra setela melihat
sosok yang duduk didepan rumahnya dia adalah pak Ramhat, calon mertuanya
“astaga, aku kira pak Ramhat langsung pulang kerumah ternyata dia malah
kerumahku, mati aku apa yang harus kulakukan” dalam hati Indra
Sambil merunduk
ingin memberikan salam pada ayahnya “assalamualakum ayah”
“jangan cium
tanganku” rupanya ayah Indra sudah mengetahui semuanya dari pak Ramhat. Indra
hanya bisa terdiam dan berpatung diri di depan orang tuanya
Pura-pura tidak
paham dengan keadaan Indra bertanya “ada apa ayah? Mengapa Indra tidak boleh
mencium tangan ayah”
“sudahlah jangan
berlagak bodoh di depak muka ayah, ternyata ini yang kamu laukan selama ini.
Kau tidak perlu berkomentar pak Ramhat sudah menceritakan semuanya, ayah kecewa
kepadamu kau bilang kau bekerja di pabrik ternyata kau menjadi banci jalanan.
Ayah tidak sudi memiliki anak sepertimu, mulaisekarang kau pergi dan jangan
kembali lagi dan jangan panggil aku ayah, aku tidak mengakui kau sebagai anakku
lagi”
Mendengan ucapan
ayahnya itu Indra seperti dibuang kedalam jurang yang penuh dengan duri dan
semak tajam, sungguh sakit rasanya ayah yang selama ini dia sayangi dan hidup
bersamanya sejak ia kecil, menggendongnya saat dia menangis, memberinya mainan
saat ia sendirian dan sekarang mengusirnya dari rumah. “ayah kemana Indra akan
pergi? Maafkan Indra yah, Indra tidak bermaksud mengecewakan ayah. Jangan usir Indra
ayah” Indra memohon pada ayahnya
Terdengar suara
isak tangis namun perlahan terdengar sayup, lalu Indra teringat pada ibunya. Indra
langsung masuk rumah dan menemui ibunya, Indra memeluk kaki ibunya sambil
memohon maaf, sambil menangis “ibu Indra minta maaf bu Indra tidak akan
mengulangi perbuatan ini bu”
“ iya nak, ibu
mengerti perasaanmu ibu juga tahu kau tak bermaksud melakukan ini koper ke depan
Indra “pergi kamu, jangan kembali lagi kerumah ini jika kau masih menjadi
banci!” ayah Indra sangat kecewa
Mendengar hal itu Indra
menyabut koper tersebut yang berisi semua pakaiannya, dan membawanya pergi
“jangan pergi nak, jangan tinggalkan ibu” ibu Indra menangis
“sudah jangan
tangisi banci itu, sia-sia selama ini aku ajari dia tentang kehidupan, menjadi
laki-laki, menggendongnya, memberikan mainan namu sekarang dian menjadi banci
jalanan biarkan dia pergi” ayah Indra sebenarnya juga tidak tega mengusir
anaknya namu apa boleh buat hati yang sudah kecewa tidak bisa diobati lagi
*****
Sementara dirumah Ratih
“tidak akutidak percaya itu ayah, Indra tidak meungkin berbuat seperti itu, dia
bekerja sebagai penjaga pabrik bukan
menjadi banci jalanan ayah pasti bohong, Ratih tahu selama ini ayah
memang tidak pernah merestui hubungan kami karena Indra belum bekerja dan
sekarang saat dia sudah bekerja ayah malah membuat berita bohong ini untuk
memisahkan kamikan?” rati masih membela Indra
“dengar! Ayah
sendiri yang memergokinya sedang mengamen dijalanan dan ayah langsung menemui
ayahnya dan melaporkan kelakuan nista anaknya itu dan sekarang dia diusir oleh
ayahnya, sekarang kamu tidak akan bertemu dengannya lagi” ayah Ratih membentak
“apa? Tega sekali
ayah mengapa ayah kejam? Apa Indra punya salah terhadap ayah?” Ratih membalas
“iya! Dia seorang
pencundang, tidak berpendidikan dan miskin” jawab ayah Ratih
“ohh ternyata ayah
selama ini hedonis, aku baru ayahku selama adalah seorang mata duitan” Ratih
langsung masuk kamar dan mengunci pintu
*****
“kemana aku harus
pergi” Indra sambil mengerutkan kengingnya, “ahh sebaiknya sekarang aku
beristirahat di depan toko ini, besok pagi aku harus mencari tempat tinggal...
Belum terlhiat
sinar mata hari “ hoy hoy hoy bangun kamu, siapa yang suruh kamu tidur di sini”
ternyata satpam penjaga toko
“maaf pak saya
sedang istirahat” jawab Indra
“kalau mau
istirahat itu dirumah, ini toko tempat jualan awas ya sekali lagi kamu tidur
disini” kata satpam tersebut
Seorang wanita
turun dari mobil sedan yang berhenti didepan toko tersebut “ ada apa pak Joni?”
tanya wanita itu
“ini bu,
gelandangan biasalah tidur didepan toko” satpam itu menjawab
“loh jangan begitu
lah, toh diakan juga manusia” jawabya lagi
“Wah baik sekali
wanita ini” fikir Indra sambil memandangi wajahnya yang cantik
“hey, sedang apa
kamu? mengapa memandangi seperti itu? Sedang memikirkan hal kotor ya?” tanya
satpam itu
Indra hanya bisa
mengelengkan kepala seperti ketakutan “hey kamu Indrakan?”wanita itu bertanya
“iya bagaimana kamu
bisa tahu?” Indra agak kebigungan
“aku Dina, apa kamu
masih ingat? Akuken teman sekelamu dulu waktu di SMP, kita seing duduk berdua
waktu itu masa kamu lupa?” wanita itu berusaha mengingatkan
“aku tidak ingat” Indra
mnejawab
“ eh masa lupa sih? Dina yang dulu sering
mencoret seragammu itu loh tapi waktu itu aku pndak sekolah ke jakarta sebelum
menuntaskan sekolahku di bandung” kembali ia menerangkan
“oh iya aku ingat,
kamu Dina yang rambutnya sering dikuncir seperti ekor kuda itu ya?” Indra mulai
ingat
“ah kamu itu tidak
pernah berubah ya, dari dulu sering sekali mengejekku” mereka bercakap sambil
mengingat memori masa lalu
“oh yah, apa yang
kamu lakukan disini?” Dina bertanya
“iya aku baru saja
diusir ayahku....” indra menceritakan keluh kesahnya, karena memang pada saat
SMP merekan juga sering bercerita tentang kehidupan masing masing
“ohh aku paham
masalahmu, bagaimana kalau kamu bekerja dengan aku?” Dina menawarkan
“dimana” tanya
indra
“di sini, di toko
ini. Toko ini salah satu toko miliki keluargaku dan masih ada lima toko lagi di
tempat yang berbeda” terang Dina
“wah hebat sekali,
tapi aku tidak memiliki keahlian dan sekolahkupun hanya sebatas SMP memangnya
kau bisa dipakai bekerja?” indra merendah
“sudah, aku tahu
kau itu pintar matematika, SMP dulu aku sering mencontek PR mu kau jadi kasir
saja ya” usul Dina sambil tersenyum
Indra membalas
senyum, itu berarti indra sudah bekerja mulai sekarang. Sejak saat itu indra
bekerja dengan giat dan tekun berkat kegigihannya itu akhirnya sekarang dia
menjadi sekretaris Dina. Tidak disangka
orang yang hanya berpendidikan seadanya namun memiliki kemampuan luar biasa,
itu semua karena pengalaman karena dia adalan guru yang sangat bijak
Suatu hari dikantor
“ Ratih, apa kamu masi mengingatku? Apa kamu masih menengguku?” dalam hati
indra
“indra besok temani
aku ya, aku menyegarkan fikiranku kita akan ke pantai” ajak Dina
“maaf bu sepertinya
saya tidak bisa” indra menolak tawaran .gadis cantik itu
“mengapa tiba-tiba
kau menolak? Tidak seperti biasanya?” Dina agak heran
“iya bu sekali lahi
maaf karena besok libur jadi saya bermaksud mengunjungi orang tua dan pacar
saya” jawab indra
“pacar? Kamu sudah
punya pacar? Siapa?” terlihat agat kecewa Dina
“iya bu, dia Ratih”
jawab indra
“oh Ratih yang
sering pulang bersamamu saat SMP itu?” kembali Dina bertanya
“iya bu” indra
menjawab singkat
“baiklah kita tunda
saja perginya” ujar Dina
Keesokan harinya
indra pergi mengunjungi ayah dan ibunya, dengan menggunakan Honda Jazz merah
dan lengkap dengan Jas dan dasi pelangi di lehernya “ayah, ibu!” seru indra
“iya siapa?” sambil
berteriak ibu indra menjawab
“ini indra bu” seru
indra
“hah indra” dalam
hati ibu indra. Langsung saja ibu indra berlari kedepan dan memandangi sosok
yang sangat berbeda “indra, indra anak ibu? Ya Allah anakku. Yah, ayah cepat
kemari lihat siapa yang datang” ibu indra memanggil suaminya
“Iya bu sabar”
sambil membawa cangkul dan baju kusamnya ayah indra muncul dari belakang rumah
“ada apa bu, dan siapa ini?”
“ini indra yah,
indra anakmu” sambil memeluk ayahnya dan terlihat mata indra berkaca-kaca
“ya Allah indra,
ini betul indra? Ayah rindu kepadamu nak” ucap ayah indra
“iya ayah, indra
juga.... oh ya ayah apa kabar Ratih?” tanya indra
“ada baiknya kau
kunjungi saja kerumahnya” jawab ayah indra
“baik yah indra
langsung kerumahnya, nanti akan indra ajak kemari indra ingin melamarnya”
sambil berlari, berteriak dan
mengendarai Honda Jazznya
“Assalamualaikum, Ratih!
“Seru indra
“waalaikum salam,
siapa ya?” jawab Ratih
“ini mas indra
sayang” sambil tersenyum kepada Ratih
“mas indra? Ini mas
indra?” rati langsung memeluk indra dengan kuat seakan tidak akan melepaskannya
“ mas kemana saja, Ratih selalu menunggu mas Ratih rindu mas, Ratih tahu mas
pasti akan pulang dan menepati janji mas” ucap Ratih sedikit mengeluarkan air
mata bahagia
“Ratih siapa itu?”
tanya ayah Ratih
“ini mas indra yah”
jawab Ratih
“hah indra banci
itu? Mau apa lagi dia datang kemari?” ucap ayah
Ratih. Namu setelah melihat penampila indra yang berbeda seakan tidak
percaya ayah Ratih menerima kehadiran indra
Betapa bahagia
kedua insan ini yang keian lama menunggu akahirnya dapat menikah walau harus
melalui rintangan yang begitu berat, terlebih lagi Ratih yang setia menunggu
penantian itu tidak sia-sia.
Walau sedikit
kecewa namun Dina dapat menerima kenyataan saat dia sudah didahului oleh Ratih.
“mas punya uang
buat bulan madu tidak??” Ratih tersenyum
“sepertinya aku
haru mulai dari awal” kata indra sambil tersenyum
“aku terima
nikahnya Ratih sulastri binti Rahmat dengan mas kawin tersebut tunai”