Minggu, 04 Desember 2011

cerpen


SEBUAH CERPEN

AKAN AKU LAMAR
KAU APAPUN
RESIKONYA





Oleh                      : Defita Juliansyah
Npm                      : 1A1011019
Prodi                     : Bahasa dan sastra indonesia
Kelas                     : A
Smester               : 1
 







PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU

AKAN AKU LAMAR KAMU APAPUN RESIKONYA

Sabtu itu di bawah pohon beringin di pinggir waduk  terlihat sepasang kekasih sedang memadu kasih
“mas kapan sih katanya mas mau lamar aku? Tapi sampai sekarang belum kesampaian juga” ucap Ratih mengeluh
“iya Ratih, mas pasti akan melamar kamu tetapi kamu harus sabar sebab sekarang mas belum punya uang untuk melamar kamu” bujuk Indra
“ah mas dari dulu setiap Ratih tanya kapan mau melamar Ratih pasti jawabannya belum punya uang, lalu kapan punya uangnya?” Ratih menggerutuh sambl memalingkan mukanya ke arah waduk
“mau bagaimana lagi, kamu ‘kan tahu kalau sampai sekarang mas masih belum punya pekerjaan tetap hanya pekerjaan serabutan apakah sudah cukup untuk menghidupi kamu? Sedangkan saat ini saja mas masih menumpang dengan orang tua, mas pasti melamar kamu sayang mas hanya minta kamu sabar sebertar saja, beri mas waktu untuk mencari uang untuk melamar kamu”Indra kembali membujuk Ratih dengan rayuannya
“baik mas Ratih akan sabar, Ratih hanya berharap kata-kata mas itu bukan hanya di bibir saja” harap Ratih kepada Indra. Terlihat berkaca-kaca mata Ratih, kemudian tanpa ada instruksi Ratih langsung memeluk erat Indra. Saat itu terasa berdegup kencang dada Indra sebeb Ratih yang ia pacari selama lima tahun itu belum dapat ia bahagiakan. “iya sayang, mas bersumpah akan menepati janji mas untuk melamar kamu bagaimanapun caranya” ucap Indra dengan suara yang lembut namun begitu tegas. Sedikit terasa tenang hati Ratih rupanya lelaki ang ia cintai ini tidak pernah bergurau untuk melamarnya.
Saat matahari mulai menapaki tempat peristirahatannya kedua sejoli itu terlihat meninggalkan waduk tersebut
“mas pulang ya” ucap Indra dengan senyum simpulnya yang begitu manis
“iya mas, hati-hati di jalan ya” balas Ratih sambil melontarkan senyuman mautnya
Seperti biasa Indra langsung ngebut pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah tanpa memberi salam kepada ibunya yang sedang beres-beres Indra langsung masuk kedalam kamar dan mengurung diri. “Indra! Ada apa? Kenapa kamu seperti sedang dikejar setan begitu?” seru ibunya sambil mengetuk pintu kamar Indra yang terlhiat begitu memprihatinkan
“tidak ada bu, Indra hanya kelelahan sekarang mau tidur dulu” jawab Indra dari dalam kamarnya
“oh, ibu kira ada apa? Ya sudah daripada kamu tidur lebih baik kamu bantu ayah kamu di kebun sana” perintah ibu Indra dengan suara lembutnya
“Indra masih lelah bu besok saja ya bantu ayahnya!” Indra kembali menjawab
“ah, kau  ini setiap kali ibu perintah pasti ada saja jawabannya, mau sampai kapan kamu begini?” nasehat ibu Indra. Lalu Indra langsung keluar sambil membanting pintu dan berkata “ah ibu ini, Indra ‘kan sudah bilang Indra sedang lelah memangnya ibu tidak mngerti bahasa manusia ya?”
Sontak ibu Indra tertegun melihat kelakuan anaknya yang begitu brutal, dia heran apa yang sebenarnya sedang terjadi terhadap anaknya karena seumur hidupnya bersama keluarga ini baru sekali ini Indra berani membentaknya. “ada apa nak, kenapa kamu bebuat seperti ini? Apa kamu punya masalah?” tanya ibu  Indra dengan nada lembut dan hampir meneteskan air mata. Melihat ibunya sedih Indra tersadar bahwa dia telah menyakiti perasaan ibunya, amarah Indrapun layu dan seraya berkata “maafkan Indra bu, Indra sudah membentak ibu” Indra berlutut dan memengang kaki ibunya sambil meneteskan air mata
“tidak apa-apa nak, coba sekarang kamu ceritakan apa yang sedang tejadi” bujuk ibu Indra
Dari balik pintu depan terdengar suara teriakan “Indra!! Apa yang sedang kamu lakukan” ternyata ayah Indra mendengar kejadian ini sejak tadi dari luar rumah, tanpa fikir panjang ayah Indra langsung masuk kedalam rumah da menapar Indra plaaakk.. pipi Indra langsung memerah terkena tamparan ayahnya. “sudah yah sudah, Indra tidak mencelakai ibu Indra sedang ada masalah ayah jangan kasar begitu dengan anak sendiri” teriak ibu Indra sambil memegang tangan ayah Indra
“maaf ayah, Indra tidak bermaksud menyakiti ibu” ucap Indra takut
“lalu apa yang kamu lakukan sehingga ibumu menangis seperti ini?” bentak ayah Indra
“sudah la yah Indra ini kan sudah besar dia pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah” ibu Indra menyabarkan suaminya
“ayah, Indra sekarang sudah besar yah, bukan anak kecil lagi sekarang Indra ingin hidup seperti kawan-kawan Indra yang lain yah” ucap Indra
“maksudmu?” tanya ayah Indra
“ayah masih ingat dengan Reno ‘kan? Sekang dia sudah punya anak dua sedang aku apa? Aku masih bujang yah” ucap Indra sedikit mengeluh
“ha ha ha ha ha! Maksudmu kamu ingin menikah? Wah rupanya anak bujang kita ini memang sudah besar bu, pantas saja tingkahnya seperti orang gila selama tiga bulan ini ternyata hatinya sedang galau rupanya, ha ha ha” ayah Indra tertawa terbahak-bahak
“kalau memang itu masalahmu kenapa kamu tidak bicarakan baik-baik kepada ayah dan ibu nak?” tanya ibu Indra sambil tersenyum bahagia
“Indra malu bu, sebab sampai sekarang ini Indra belum mendapatkan pekerjaan, jangankan untuk melamar untuk makan dan tidur saja Indra masih menumpang dengan ayah dan ibu” jawab Indra malu
“yah sudah, kalau kamu memang ingin segera menikah ayah akan cari pinjaman dulu” ucap ayah indra
“tidak usah yah, Indra tidak mau lagi membebankan ayah dan ibu biar saja Indra yang cari uangnya sendiri. Indra juga takut jika Indra terlalu bergantung kepada ayah dan ibu nanti tidak bisa menghidupi  keluarga Indra, karena sudah terbiasa meminta kepada ayah dan ibu” jawab Indra tegas
“baik kalau begitu buktikan jika kamu memang ingin menjadi orang yang bertanggung jawab, ayah mau lihat bagaimana sifat seorang laki-laki menurut kamu” tantang ayah Indra
“baik ayah Indra akan ingat kata-kata ayah” jawab Indra
Pagi-pagi sekali di hari minggu itu suara sibuk sudah terdengar
“tumben nak kamu bangun pagi sekali hari minggu?” tanya ibu Indra yang sedang memasak di dapur
“iya bu Indra mau cari pekerjaan” Indra menjawab sambil tersenyum
“wah rupanya sekarang kamu sudah sadar ya?” ibu Indra sambil tersenyum
“loh memangnya selama ini Indra tidak sadar ya bu?” tanya Indra
“sudahlah, cepat bergegas cari pekerjaan, katanya mau melamar?” ibu Indra masih tersenyum
“baik bu Indra berangkat ya, assalamualaikum” Indra bergegas pergi setelah mencium tangan ibunya
“wa'alaikum salam, hati-hati di jalan nak!” seru ibu Indra sambil menyemangatinya
Memang mencari pekerjaan tidaklah mudah seperti yang dibayangkan, apalagi di kota besar seperti Bandung ini dan ditambah lagi pendidikan Indra yang hanya sebatas SLTP sepertinya bak mencari jarum di tumpukan jerami. Berkilo-kilo meter jalan yang di susuri Indra puluhan kantor ia masuki namun belum satupun yang mau menerimanya untuk bekerja, akhirnya malam sudah tiba dan Indra pulang dengan tangan hampa namun di tengah perjalanan pulang angkot yang Indra tumpangi terjebak macet sehingga rasa kecewa Indra semakin membenak, perut yang lapar karena belum makan dari pagi dan sekarang terjebak macet. Indra melirik-lirik ke arah jendela berniat mencari tempat yang akan ia jadikan sasaran melamar pekerjaan besok, namun tanpa disangka-sangka seorang waria datang dari arah samping dan sontak mangagetkan Indra “aku tak mau kalau aku dimadu, pulangkan saja kerumah orang tuaku serrr serrr” waria itu bernyanyi di depan Indra dengan suaranya yang cempreng seperti kaleng sardines “kang hayu atuh kang sumbangan buat waria kelaparan” minta waria itu
“nih” Indra memberikan uang 2000 rupiah kepada waria itu “sana pergi” tegas Indra sambil agak ketakutan
“ih si akang mah baru nyumbang dua ribu perak saja sudah kasar, capeee dehhh” waria itu menghilang entah kemana
“gila yang benar saja, hari ini aku benar-benar sial” dalam fikiran Indra
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Indra baru tiba di rumah
“bagaimana Indra, apa kamu sudah dapat pekerjaan?” tanya ayah Indra yang sedang santai di beranda rumahnya sambil minum kopi susu hangat
“belum yah” jawab Indra lesu
“memang begitu hidup di dunia ini kita orang yang tidak punya kekuasaan lama-kelamaan akan tersingkir dari peradaban orang-orang berkuasa, tetapi kamu jangan menyerah karena hari esok masih ada” ayah Indra menyemangati Indra
Indra langsung masuk kekamarnya dan beristirahat
“Indra ayo makan dulu nak, ibu sudah memasakkan jengkol kesukaan kamu”  teriak ibu Indra dari dapur
“iya bu, Indra instirahat sebentar” Indra langsung tidur karena kelelahan
Karena sudah lama menunggu Indra untuk datang makan, ibu Indra menghampiri kamar anaknya dan terlihat lah Indra yang sedang tertidur pulas dengan baju kemeja yang masih menempel di badannya “sungguh kasihan kamu nak” ucap ibu Indra lirih. Lalu ayah Indra menghampiri ibu Indra “biarkan saja bu, Indra ‘kan anak laki-laki yang anak tunggal sudah sepatutnya dia belajar menjadi dewasa jangan selalu dimanjakan, kapan lagi dia mau belajar menjadi seorang pemimpin”
“iya yah” jawab ibu Indra
“ya sudah sekarang sudah larut malam, ayo bu kita istirahat” ajak ayah Indra
Sudah tiga minggu berturut-turut Indra mencari pekerjaan namun belum juga membuahkan hasil, rasa frustasi mulai menerpa pemuda ini, Indra merenenung dalam fikirannya ia bertanya “apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan pekerjaan” lalu terlintas fikiran gila dalam otaknya, Indra teringat dengan waria yang menggodanya waktu itu, Indra mencari pakaian ibunya di dalam lemari kamar ibunya, beruntung saat itu ibu Indra sedang ke warung membeli sayuran, Indra mulai berdandan layaknya seorang wanita. Indra terkagum setelah melihat dirinya begitu persis seorang wanita dengan paras tinggi dan wajah yang oriental.
“assalamualaikum” salam ibu Indra baru pulang dari warung
Indra langsung bergegas merapihkan dirinya, ia pasti malu jika ketahuan dengan ibunya saat ia sedang berpakaian  seperti seorang wanita. Beruntung Indra tidak ketahuan dan keadaan menjadi biasa saja.
Saat malam tiba Indra pamit kepada ayah dan ibunya untuk pergi ke rumah Dadang teman sekolahnya dulu di kampung sebelah, dan tentu saja ayah dan ibunya mengizinkan karena mereka tidak sadar bahwa di dalam tas Indra dia membawa pakai ibunya.
Tentu bukan ke rumah Dadang Indra melaju tetapi ketempat dimana ia berjumpa dengan waria yang menggodanya waktu itu. Setibanya Indra di tempat itu Indra langsung menuju WC umum dan mengganti pakaiannya. “loh waria juga ya neng” goda penjaga WC umum
“sial bapak ini, jika tidak terpaksa aku juga tidak mau menjadi waria” dalam benak Indra. 8Indra langsung pergi ke pinggir jala setelah membayar WC umum
Dengan bermodalkan botol minuman bekas yang berisi batu kerikil Indra mulai beraksi menjajakan suaranya di pinggir jalanan yang macet, ternyata maet menjadi salah satu keuntungan tersendiri bagi waria di sekitar jalan ini. Malam semakin melarut dan hampr menjelang pagi, sementara dirumah, ibu Indra tidak bisa tidur dengan nyennyak karena menunggu  Indra pulang “sudahlah bu Indra itu anak laki-laki, dia bisa jaga dirinya” ucap ayah Indra yang ikut terbangun “ibu instirahat saja nanti ibu sakit jika kurang istirahat”
Pukul lima pagi Indra sudah berada dikamarnya, entah kapan ia pulang karena pintu rumah tidak terkunci sehingga Indra pulang tanpa diketahui oleh ayah atau ibunya
“Indra! Kamu sudah pulang nak?” seru ibu Indra sambil mengetuk pintu
“iya bu” jawab Indra. Beruntung Indra sudah membersihkan sisa-sisa dandanannya tadi malam hingga ibu Indra tidak curiga
“kemana kamu semalam nak? Ibu sampai tidak bisa tidur mengunggu kamu pulang” ibu Indra agak khawatir
“jagan cemas bu, Indra tadi malam memang tidak pulang karena bekerja” jawab Indra
“kerja? Kerja apa nak kok malam-malam?” tanya ibu Indra lagi
“iya bu, Indra bekerja menjaga gudang di perusahaan makanan ringan, Dadang yang mengajak Indra bu” Indra berbohong pada ibunya
“alhamdulillah, akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan juga” ibu Indra bahagia sekali mendengar ucapa anaknya
“iya bu, Indra mau istirahat dulu soalnya tadi malam tidak sempat tidur bu” ucap Indra yang masih memejamkan matanya
“Iya istirhat saja, sarapan kamu sudah ibu siapkan di meja makan” ibu Indra meninggalkan kamar Indra
Tiga bulan sudah Indra melalui kehidupan ditengah  lampu-lampu jalan dan uang yang ia dapatkan sudah lumayan, sepertinya sudah bisa membeli cincin kawin, namun malam itu ketika Indra sedang asyik menjajakan suaranya Ratih lewat di depan mukanya, tidak athu lagi apa yang harus Indra perbuat, dan sialnya Ratih melirik dan terus memperhatikan Indra. Ratih sempat curiga namun ia menepis jauh-jauh prasangka buruk tersebut karen Indra bilang bahwa ia bekerja di gudang pabrik makanan, walaupun masih terdapt rasa gundah di hati Ratih.
Hari minggu Indra mengajak Ratih ke pinggir waduk dimana tempat mereka biasa bercengkrama
“mas kemarin malam Ratih nelihat seorang waria yang wajahnya mirip sekali dengan mas” Ratih mengadu. Langsung bedegup kencang dada Indra mendengar ucapan Ratih
“ah apa maksud kamu, jadi kamu menyamakan mas dengan waria begitu?” Indra mengelak
“hahaha bukan mas, buka itu maksud Ratih tetapi lucu saja jika Ratih teringat dengan kejadian itu, Ratih membayangkan bagaimana jika mas yang jadi waria itu hihihi” Ratih tertawa terbahak
“baik kalau begitu nanti mas akan benar-benar menjadi waria, kamu mau?” ucap Indra
“jangan dong mas, Ratih tidak sudi memiliki suami yang bekerja sebagai waria, apa kata orang nanti?” jawab Ratih
Indra mulai merasa takut, tetapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, Indra sudah merasa nyaman menjadi waria pengamen. Dan uang yang ia dapatkan juga lumayan. “iya sayang mana mungkin ma seperti itu” bujuk Indra sambil tersenyum, entah itu malu atau takut.
Enam bulan sudah berlalu sejak pertama kali Indra menjadi seorang waria, jika di hitung-hitung tiga bulan lagi sepertinya sudah bisa melamar Ratih, Indra seakin semangat mengamen dan terbayang-bayang di benaknya saat ia meminang Ratih dengan hasil jerih payahnya sendiri. “pak beli rokoknya satu bungkus, berapa pak” seorang pria berumur membeli rokok di warung tempat Indra biasa istirahat setelah mengamen. “wah rupanya hari ini lumayan juga” ucap Indra menghitung hasil mengamennya. Ting ting ting ting, uang recehan Indra terjatuh, dan ia memungutnya.
“Indra? Kamu Indrakan” tanya bapak tua tadi yang teryata pak Ramhat ayah Ratih. Langung saja tidak karuan perasaan Indra melihat wajah yang dihadapinya adalah calon mertuanya sedangkan ia sedang memakai pakaian warianya “iya kamu Indra, apa yang sedang kamu lakukan? Bukankan kamu bekerja sebagai penjaga gudang, lalu mengapa pakaian kamu seperti waria seperti ini?” kembali bapak tua tersebut bertanya dengan tegas, tidak dapat berkata apa-apa lagi Indra dan hanya bisa tertunduk lesu dan malu, kecewa, takut semua bercapur dalam dada
“oh jadi ini yang kamu lakukan? Kamu menjadi banci? Aku tidak sudi memiliki menantu sepertimu! Mulai sekarang jangan kamu dekati lagi anak saya.” Ucap pak Ramhat
“tunggu pak ini tida seperti yang bapak kira” Indra coba menjelaskan
“sudahlah, aku tidak ingin melihat mukamu lagi” terlihat wajak pak ramat yang begitu marah dan kecewa
"pak tunggu dulu, dengarkan penjelasan Indra” namun pak Ramhat sudan berlalu naik angkot
Indra menyesalkan dirinya yang tidak berdaya dan tidak dapat menjelaskan kejadia yang sebenarnya kepada calon mertuanya itu, namun apa yang harus dilakukan sekarang nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin lagi dapat diperbaiki. Belum sampai pukul 12 malam Indra sudah pulang kerumah, betapa terguncangnya tubuh Indra setela melihat sosok yang duduk didepan rumahnya dia adalah pak Ramhat, calon mertuanya “astaga, aku kira pak Ramhat langsung pulang kerumah ternyata dia malah kerumahku, mati aku apa yang harus kulakukan” dalam hati Indra
Sambil merunduk ingin memberikan salam pada ayahnya “assalamualakum ayah”
“jangan cium tanganku” rupanya ayah Indra sudah mengetahui semuanya dari pak Ramhat. Indra hanya bisa terdiam dan berpatung diri di depan orang tuanya
Pura-pura tidak paham dengan keadaan Indra bertanya “ada apa ayah? Mengapa Indra tidak boleh mencium tangan ayah”
“sudahlah jangan berlagak bodoh di depak muka ayah, ternyata ini yang kamu laukan selama ini. Kau tidak perlu berkomentar pak Ramhat sudah menceritakan semuanya, ayah kecewa kepadamu kau bilang kau bekerja di pabrik ternyata kau menjadi banci jalanan. Ayah tidak sudi memiliki anak sepertimu, mulaisekarang kau pergi dan jangan kembali lagi dan jangan panggil aku ayah, aku tidak mengakui kau sebagai anakku lagi”
Mendengan ucapan ayahnya itu Indra seperti dibuang kedalam jurang yang penuh dengan duri dan semak tajam, sungguh sakit rasanya ayah yang selama ini dia sayangi dan hidup bersamanya sejak ia kecil, menggendongnya saat dia menangis, memberinya mainan saat ia sendirian dan sekarang mengusirnya dari rumah. “ayah kemana Indra akan pergi? Maafkan Indra yah, Indra tidak bermaksud mengecewakan ayah. Jangan usir Indra ayah” Indra memohon pada ayahnya
Terdengar suara isak tangis namun perlahan terdengar sayup, lalu Indra teringat pada ibunya. Indra langsung masuk rumah dan menemui ibunya, Indra memeluk kaki ibunya sambil memohon maaf, sambil menangis “ibu Indra minta maaf bu Indra tidak akan mengulangi perbuatan ini bu”
“ iya nak, ibu mengerti perasaanmu ibu juga tahu kau tak bermaksud melakukan ini koper ke depan Indra “pergi kamu, jangan kembali lagi kerumah ini jika kau masih menjadi banci!” ayah Indra sangat kecewa
Mendengar hal itu Indra menyabut koper tersebut yang berisi semua pakaiannya, dan membawanya pergi “jangan pergi nak, jangan tinggalkan ibu” ibu Indra menangis
“sudah jangan tangisi banci itu, sia-sia selama ini aku ajari dia tentang kehidupan, menjadi laki-laki, menggendongnya, memberikan mainan namu sekarang dian menjadi banci jalanan biarkan dia pergi” ayah Indra sebenarnya juga tidak tega mengusir anaknya namu apa boleh buat hati yang sudah kecewa tidak bisa diobati lagi
*****
Sementara dirumah Ratih “tidak akutidak percaya itu ayah, Indra tidak meungkin berbuat seperti itu, dia bekerja sebagai penjaga pabrik bukan  menjadi banci jalanan ayah pasti bohong, Ratih tahu selama ini ayah memang tidak pernah merestui hubungan kami karena Indra belum bekerja dan sekarang saat dia sudah bekerja ayah malah membuat berita bohong ini untuk memisahkan kamikan?” rati masih membela Indra
“dengar! Ayah sendiri yang memergokinya sedang mengamen dijalanan dan ayah langsung menemui ayahnya dan melaporkan kelakuan nista anaknya itu dan sekarang dia diusir oleh ayahnya, sekarang kamu tidak akan bertemu dengannya lagi” ayah Ratih membentak
“apa? Tega sekali ayah mengapa ayah kejam? Apa Indra punya salah terhadap ayah?” Ratih membalas
“iya! Dia seorang pencundang, tidak berpendidikan dan miskin” jawab ayah Ratih
“ohh ternyata ayah selama ini hedonis, aku baru ayahku selama adalah seorang mata duitan” Ratih langsung masuk kamar dan mengunci pintu
*****
“kemana aku harus pergi” Indra sambil mengerutkan kengingnya, “ahh sebaiknya sekarang aku beristirahat di depan toko ini, besok pagi aku harus mencari tempat tinggal...
Belum terlhiat sinar mata hari “ hoy hoy hoy bangun kamu, siapa yang suruh kamu tidur di sini” ternyata satpam penjaga toko
“maaf pak saya sedang istirahat” jawab Indra
“kalau mau istirahat itu dirumah, ini toko tempat jualan awas ya sekali lagi kamu tidur disini” kata satpam tersebut
Seorang wanita turun dari mobil sedan yang berhenti didepan toko tersebut “ ada apa pak Joni?” tanya wanita itu
“ini bu, gelandangan biasalah tidur didepan toko” satpam itu menjawab
“loh jangan begitu lah, toh diakan juga manusia” jawabya lagi
“Wah baik sekali wanita ini” fikir Indra sambil memandangi wajahnya yang cantik
“hey, sedang apa kamu? mengapa memandangi seperti itu? Sedang memikirkan hal kotor ya?” tanya satpam itu
Indra hanya bisa mengelengkan kepala seperti ketakutan “hey kamu Indrakan?”wanita itu bertanya
“iya bagaimana kamu bisa tahu?” Indra agak kebigungan
“aku Dina, apa kamu masih ingat? Akuken teman sekelamu dulu waktu di SMP, kita seing duduk berdua waktu itu masa kamu lupa?” wanita itu berusaha mengingatkan
“aku tidak ingat” Indra mnejawab
“ eh   masa lupa sih? Dina yang dulu sering mencoret seragammu itu loh tapi waktu itu aku pndak sekolah ke jakarta sebelum menuntaskan sekolahku di bandung” kembali ia menerangkan
“oh iya aku ingat, kamu Dina yang rambutnya sering dikuncir seperti ekor kuda itu ya?” Indra mulai ingat
“ah kamu itu tidak pernah berubah ya, dari dulu sering sekali mengejekku” mereka bercakap sambil mengingat memori masa lalu
“oh yah, apa yang kamu lakukan disini?” Dina bertanya
“iya aku baru saja diusir ayahku....” indra menceritakan keluh kesahnya, karena memang pada saat SMP merekan juga sering bercerita tentang kehidupan masing masing
“ohh aku paham masalahmu, bagaimana kalau kamu bekerja dengan aku?” Dina menawarkan
“dimana” tanya indra
“di sini, di toko ini. Toko ini salah satu toko miliki keluargaku dan masih ada lima toko lagi di tempat yang berbeda” terang Dina
“wah hebat sekali, tapi aku tidak memiliki keahlian dan sekolahkupun hanya sebatas SMP memangnya kau bisa dipakai bekerja?” indra merendah
“sudah, aku tahu kau itu pintar matematika, SMP dulu aku sering mencontek PR mu kau jadi kasir saja ya” usul Dina sambil tersenyum
Indra membalas senyum, itu berarti indra sudah bekerja mulai sekarang. Sejak saat itu indra bekerja dengan giat dan tekun berkat kegigihannya itu akhirnya sekarang dia menjadi  sekretaris Dina. Tidak disangka orang yang hanya berpendidikan seadanya namun memiliki kemampuan luar biasa, itu semua karena pengalaman karena dia adalan guru yang sangat bijak
Suatu hari dikantor “ Ratih, apa kamu masi mengingatku? Apa kamu masih menengguku?” dalam hati indra
“indra besok temani aku ya, aku menyegarkan fikiranku kita akan ke pantai” ajak Dina
“maaf bu sepertinya saya tidak bisa” indra menolak tawaran .gadis cantik itu
“mengapa tiba-tiba kau menolak? Tidak seperti biasanya?” Dina agak heran
“iya bu sekali lahi maaf karena besok libur jadi saya bermaksud mengunjungi orang tua dan pacar saya” jawab indra
“pacar? Kamu sudah punya pacar? Siapa?” terlihat agat kecewa Dina
“iya bu, dia Ratih” jawab indra
“oh Ratih yang sering pulang bersamamu saat SMP itu?” kembali Dina bertanya
“iya bu” indra menjawab singkat
“baiklah kita tunda saja perginya” ujar Dina
Keesokan harinya indra pergi mengunjungi ayah dan ibunya, dengan menggunakan Honda Jazz merah dan lengkap dengan Jas dan dasi pelangi di lehernya “ayah, ibu!” seru indra
“iya siapa?” sambil berteriak ibu indra menjawab
“ini indra bu” seru indra
“hah indra” dalam hati ibu indra. Langsung saja ibu indra berlari kedepan dan memandangi sosok yang sangat berbeda “indra, indra anak ibu? Ya Allah anakku. Yah, ayah cepat kemari lihat siapa yang datang” ibu indra memanggil suaminya
“Iya bu sabar” sambil membawa cangkul dan baju kusamnya ayah indra muncul dari belakang rumah “ada apa bu, dan siapa ini?”
“ini indra yah, indra anakmu” sambil memeluk ayahnya dan terlihat mata indra berkaca-kaca
“ya Allah indra, ini betul indra? Ayah rindu kepadamu nak” ucap ayah indra
“iya ayah, indra juga.... oh ya ayah apa kabar Ratih?” tanya indra
“ada baiknya kau kunjungi saja kerumahnya” jawab ayah indra
“baik yah indra langsung kerumahnya, nanti akan indra ajak kemari indra ingin melamarnya” sambil berlari, berteriak dan  mengendarai Honda Jazznya
“Assalamualaikum, Ratih! “Seru indra
“waalaikum salam, siapa ya?” jawab Ratih
“ini mas indra sayang” sambil tersenyum kepada Ratih
“mas indra? Ini mas indra?” rati langsung memeluk indra dengan kuat seakan tidak akan melepaskannya “ mas kemana saja, Ratih selalu menunggu mas Ratih rindu mas, Ratih tahu mas pasti akan pulang dan menepati janji mas” ucap Ratih sedikit mengeluarkan air mata bahagia
“Ratih siapa itu?” tanya ayah Ratih
“ini mas indra yah” jawab Ratih
“hah indra banci itu? Mau apa lagi dia datang kemari?” ucap ayah  Ratih. Namu setelah melihat penampila indra yang berbeda seakan tidak percaya ayah Ratih menerima kehadiran indra
Betapa bahagia kedua insan ini yang keian lama menunggu akahirnya dapat menikah walau harus melalui rintangan yang begitu berat, terlebih lagi Ratih yang setia menunggu penantian itu tidak sia-sia.
Walau sedikit kecewa namun Dina dapat menerima kenyataan saat dia sudah didahului oleh Ratih.
“mas punya uang buat bulan madu tidak??” Ratih tersenyum
“sepertinya aku haru mulai dari awal” kata indra sambil tersenyum
“aku terima nikahnya Ratih sulastri binti Rahmat dengan mas kawin tersebut tunai”